Jumat, 03 Juni 2011

Dosa, Keturunan Yang Berdosa, Dan Penebusan Dosa

Kondisi kutuk yang menimpa manusia disebabkan karena manusia telah berbuat dosa. Banyak orang yang tidak faham mengenai pengertian dosa. Apa itu dosa?? Kalau kita merujuk pada kitab Allah, dosa adalah tindakan manusia secara perorangan atau secara bersama-sama yang menyimpang dari kehendak dan hukum Allah. Dan kalau kita perhatikan, ini merupakan dosa keturunan, dosa yang dilakukan oleh orang tua kita terdahulu. Perhatikan firman Allah dalam Surat Ibrahim ayat 28 : “Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang telah menukarkan nikmat Allah (Darussalam / Yerusalem / Nege ri keselamatan / kerajaan Allah) dengan kekafiran dan menjatuhkan kaumnya ke Darul bawar (Negeri kebinasaan/kerajaan bangsa-bangsa)?” Jadi ketika Yerusalem hancur, maka manusia secara masal menyimpang dari kehendak dan hukum Allah, dan karena itulah manusia jatuh ke dalam dosa. Jadi pada hari ini mengkondisikan manusia untuk berbuat dosa. Manusia tidak dapat membebaskan dirinya sendiri dari dosa. Lantas bagaimana manusia dapat bebas dari dosa yang telah berabad-abad membelenggunya?


Perhatikan Kitab Matius 1:21 : “Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari DOSA mereka." Umatnya disini yang di maksud adalah bani Israel yang telah berbuat dosa, dikarenakan umat generasi Musa (bani Israel) telah melanggar perjanjian abadi dengan Allah, mengubah hukum dan ketetapan Allah. Apa yang telah dibangun oleh Musa, yakni Yerusalem yang pertama telah hancur, sehingga bani Israel jatuh ke dalam dosa. Sehingga kenapa dalam perjanjian lama ada Kitab Ratapan? Siapa yang meratap? tentunya bani Israel. Kenapa meratap? Karena tadinya Bani Israel adalah bangsa yang memimpin dunia, segala bangsa-bangsa di dunia tunduk kepada Isarel, tetapi karena perbuatan dosa mereka, yakni mereka telah melanggar perjanjian abadi, maka Allah murka pada mereka, dan menghukum mereka menjadi bangsa yang terkutuk, terhina, dan terjajah. Maka merataplah mereka. Jadi Yesus datang bukan menebus dosa bani Adam!!, tetapi Dia datang untuk menebus dosa Bani Israel. Karena keturunan Adam yang berdosa kurun waktunya sudah berlalu dan sudah ditebus dengan kedatangan Nuh.

Perhatikan Kitab Kejadian 5:29 : “Dan memberi nama Nuh kepadanya, katanya: "Anak ini akan memberi kepada kita penghiburan dalam pekerjaan kita yang penuh susah payah di tanah yang telah terkutuk oleh TUHAN. Kata-kata “Penghiburan” ini dalam artian bahwa Nuh menebus dosa Bani Adam dan akan mengembalikan mereka (bani Adam) dari tanah yang terkutuk kepada tanah yang penuh berkat dari Tu(h)an.

Perhatikan pula Kitab Yohannes 16:7-8 : “Namun benar yang Kukatakan ini kepadamu: Adalah lebih berguna bagi kamu, jika Aku pergi. Sebab jikalau Aku tidak pergi, Penghibur itu tidak akan datang kepadamu, tetapi jikalau Aku pergi, Aku akan mengutus Dia kepadamu. Dan kalau Ia datang, Ia akan menginsafkan dunia akan DOSA, kebenaran dan penghakiman.” Jadi yang dinubuatkan oleh Yesus adalah seorang anak manusia yakni dari bani Ismael/Kedar yaitu Muhammad, karena Muhammad pun juga keturunan Abraham, Bapa Leluhur dari Yesus dan Musa. Dimana Ia (Muhammad) juga akan berlaku untuk menebus dosa umat manusia manakala apa yang telah dibangun oleh Yesus Kristus yakni Yerusalem yang kedua juga telah hancur. Ketika Yeusalem kedua yang dibangun oleh Yesus telah hancur, maka dunia kembali kepada gelap, dan manusia jatuh lagi ke dalam dosa.

Muhammad Pun bertindak sama seperti Yesus dan Musa, yakni membangun kembali kerajaan Allah yang telah runtuh, dalam bahasa arab disebut Darussalam, dalam bahasa Israel disebut Yerusalem. Hari ini kita lihat apa yang telah Muhammad bangun pun sudah hancur, mengalami nasib yang sama seperti Yesus dan Musa. Darussalam yang dulunya di bangga-banggakan sudah tidak ada lagi hari ini. Sehingga rumusannya manusia jatuh lagi ke dalam dosa. Lantas bagaimana rumusannya, kalau manusia hari ini hendak terbebas dari dosa? Tentu perjalanan sejarah akan terulang kembali.

Perhatikan pula pada surat Yunus ayat 25 : “Allah menyeru manusia ke Darussalam, dan menunjuki orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan keselamatan.” Ini maksudnya adalah Tu(h)an Allah menyuruh kita untuk membangun kerajaan-Nya di bumi, karena itu merupakan jalan keselamatan bagi ummat manusia yang dapat membebaskan diri mereka dari dosa.

Ada istilah manusia lahir dalam keadaan dosa. Ini maksudnya adalah manusia yang dilahirkan dan hidup pada masa di mana Yerusalem/Darusalam hancur, akan dididik dengan ajaran-ajaran atau paham yang tentunya tidak atas nama Allah, manusia dipaksa untuk menjadi budak bangsa-bangsa, dimana yang berlaku sebagai tu(h)an bukan Allah semesta alam. Maka manusia perlu dilahirkan kembali untuk yang kedua kali agar terlepas dari dosa, bukan lahir fisiknya tetapi lahir ruhani nya.

Ada istilah lagi bahwa manusia lahir dalam keadaan buta, seperti kisahnya Yesus yang dengan Roh Kudusnya menyembuhkan manusia yang lahir buta. Ini bukan buta dalam artian tidak berfungsinya 2 biji mata. Tetapi kalau kita mau mencermati dan mencerdasinya bahwa dalam keadaan tidak adanya Yerusalem atau Darusalam di muka bumi, maka tentunya hukum Allah tidak diberlakukan. Yang berfungsi sebagai terang dunia sehingga tidak ada manusia yang tersesat hidupnya adalah hukum Allah itu sendiri. Sehingga ketika hukum Allah dirubah menjadi hukum bangsa-bangsa maka kondisi dunia akan gelap, tidak ada penerangan dan keterangan. Dalam keadaan seperti itulah manusia tidak bisa melihat, meskipun dia memiliki 2 biji mata yang masih normal. Istilah tidak bisa melihat sama dengan buta, sehingga mengertilah kita pada hari ini manusia dilahirkan dalam keadaan buta.

Bani Israel dan Ismael, yang dulunya ummat kesayangan Allah, sekarang menjadi ummat yang dihinakan Allah, karena perbuatan dosa mereka, meninggalkan hukum Allah dan tidak lagi mempertahankan Darusalam/Yerusalem yang dibangun susah payah oleh Muhammad, Yesus, dan Musa. Mereka telah berzina dengan bangsa-bangsa. Tanah yang tadinya suci sudah tidak lagi suci, karena sekarang dijadikan sebagai tempat perzinahan, tempat perdagangan merpati, serta tempat penukar uang, jadi Bait Allah sudah tidak berfungsi lagi sebagaimana mestinya, yakni sebagai tempat persembahan. Seperti yang dikatakan dalam kitab : “Lalu tibalah Yesus dan murid-murid-Nya di Yerusalem. Sesudah Yesus masuk ke Bait Allah, mulailah Ia mengusir orang-orang yang berjual beli di halaman Bait Allah. Meja-meja penukar uang dan bangku-bangku pedagang merpati dibalikkan-Nya, dan Ia tidak memperbolehkan orang membawa barang-barang melintasi halaman Bait Allah. Lalu Ia mengajar mereka, kata-Nya: "Bukankah ada tertulis: Rumah-Ku akan disebut rumah doa bagi segala bangsa? Tetapi kamu ini telah menjadikannya sarang penyamun!!”

Allah dibesar-besarkan diberbagai bait Allah, yakni di mesjid, di gereja, di kanesah, di sinagog, atau di tempat-tempat peribadatan lainnya, tetapi di dalam hidupnya mereka tunduk kepada hukum bangsa-bangsa. Seperti tertulis dalam kitab : “Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku. Percuma mereka beribadah kepada-Ku, sedangkan hukum yang mereka taati adalah hukum manusia. Itu namanya bangsa yang sudah berzina.

Hukum Pergantian Kekuasaan Di Muka Bumi

Maha terpuji Allah yang telah menjalankan hambanya. Yang disebut menjalankan adalah bahasa hikmah. Hidup ini seperti orang yang berjalan. Baik mereka yang beriman ataupun yang mengingkarinya, semua digerakkan. Orang-orang bergerak dari pagi sampai malem, tentunya dia digerakkan oleh sesuatu yang ghaib. Sebuah bangsa pun juga digerakkan oleh sesuatu yang ghaib. Masalahnya, apakah itu? Kekuatan yang destruktif (merusak) atau konstruktif (membangun)?, kekuatan yang postif atau yang negatif? Hari ini orang digerakkan, ada yang digerakkan oleh perutnya, ada yang digerakkan oleh bawah perutnya, ada yang digerakkan oleh pundaknya. Orang keluar setiap pagi, untuk apa? Apa yang dicari? Tentunya tiga faktor: Tahta, Harta, Wanita, itulah kecintaan Syahwat, berarti dia digerakkan oleh Asy-Syahwat. Apakah kamu tidak melihat, orang-orang yang mengabdi kepada ilah-nya yaitu Al-Hawa.

Ada yang melaksanakan perintah Tu(h)an nya dan ada yang mendurhakainya, semua karena kekuatan yang menggerakkan dirinya. Dia tidak sadar, selama ini dia digerakkan oleh kekuatan yang tidak bisa dia lihat. Kekuatan yang menggerakkan dia dihimpun dari proses dia belajar, membaca, mendengar dari segala macam per-guru-an, pergaulan, didikan yang pernah dia tempuh selama ini di manapun dia berada.

Masa akan mempertemukan 2 buah kekuatan itu (positif dan negatif), dimana pada masa itu dikenal dengan titik kebangkitan dan titik kehancuran, atau dalam bahasa kitab bahwa hari itu adalah hari bertemunya 2 pasukan. Tentu pertanyaannya, titik kebangkitan bagi siapa? dan titik kehancuran bagi siapa? Jika titik kebangkitan bagi kekuatan yang positif terjadi maka teranglah dunia, tetapi jika titik kebangkitan bagi kekuatan yang negatif terjadi maka gelaplah dunia, dan ini merupakan siklus yang tidak pernah berhenti, mengulang sepanjang jaman, dari generasi ke generasi, hanya saja manusia tidak mau memperhatikannya, karena begitu sibuknya ngurusin tiga faktor di atas. Sebagaimana dalam sunnah Allah, Allah menciptakan segala sesuatu berpasang-pasangan, baik dalam alam materi maupun dalam alam kehidupan manusia. Dalam alam materi misalnya : silih bergantinya siang dan malam sesuai dengan ketetapan waktunya, ada hidup dan ada mati dan sebagainya. Dalam alam kehidupan manusia mengalami kejadian yang sama seperti alam semesta / materi. Dibalik kejadian di alam semesta ternyata terdapat tanda-tanda bagi orang-orang menggunakan akalnya. Inilah makna penting bahasa amsal/perumpamaan.

Perhatikan penjelasan di bawah ini.

Silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal. Apa yang dimaksud dengan malam dan apa yang dimaksud dengan siang? Kenapa ada malam dan kenapa ada siang? Malam dan siang selalu berganti yang masing-masing mempunyai batas waktu, malam 12 jam dan siang 12 jam serta tidak akan pernah berubah baik pada zaman dahulu, sekarang maupun yang akan datang. Itulah ketetapan atau kebiasaan Allah yang disebut dengan Sunnatullah dalam alam materi. Kemudian bagaimana dengan Sunnatullah yang ada di alam kehidupan manusia (psychosocial-ociety)? Untuk dapat memahami Sunnatullah yang ada di alam kehidupan manusia, maka manusia harus bisa memahami Sunnatullah yang ada di alam materi seperti silih bergantinya malam dan siang adalah bacaan bagi manusia, karena alam merupakan kitab besar bagi umat manusia.

Silakan Saudara perhatikan Surat ke-3 ayat ke-190 dan 191

3/190 : “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, serta silih bergantinya malam dan siang ada tanda-tanda bagi kaum yang berakal.”

3/191 : “Yaitu orang-orang yang mengingat Allah baik dalam keadaan berdiri, duduk maupun berbaring.”

Sekarang kita fahami maksud dari Ayat tersebut, apa yang dimaksud dengan malam dan siang yang silih berganti dan mengingat Allah alam keadaan berdiri, duduk maupun berbaring.

1. Malam artinya kondisi gelap dan tidak ada cahaya dimana manusia mudah tersesat karena tidak bisa melihat, sehingga tidak dapat membedakan dan tidak tahu apa-apa, yang ada hanyalah meraba-raba. Yang dapat berfungsi sebagai cahaya dalam kehidupan manusia adalah cahaya Allah (kitab Allah). Kalau manusia meninggalkan kitab Allah, tidak menjadikannya sebagai pedoman dan petunjuk hidup, maka yang terjadi adalah kondisi kegelapan. Berarti kondisi malam hari adalah kondisi kegelapan atau kedzoliman atau kelaliman, sebab bukan hukum Allah yang diberlakukan, akan tetapi hukum manusia yang diberlakukan. Jadi kondisi malam adalah kondisi tegaknya hukum atau sistem yang bukan Allah, sehingga orang tidak dapat melihat kebenaran. Tidak dapat membedakan yang benar dan yang salah.

2. Siang artinya kondisi terang, terdapat sinar matahari yang menerangi seluruh dunia, sehingga manusia dapat melihat dan dapat membedakan sesuatu. Dalam kondisi siang hari, tidaklah mungkin manusia tersesat. Terang karena ada cahaya, karena kitab Allah sebagai cahaya, dijadikannya sebagai petunjuk dan pedoman hidup bagi manusia. Dalam kondisi ini manusia dapat membedakan antara yang benar dan yang salah. Kondisi yang demikian karena hukum Allah telah tegak di muka bumi. Jadi kondisi siang adalah kondisi di mana tegaknya hukum atau sistem Allah.

Jika malam melingkupi siang, maka akan terjadi perubahan besar pada tingkah laku alam dan makhluk, diantaranya adalah sebagai berikut :

1. Semua yang tadinya nampak jelas kini menjadi buram dan akhirnya tidak kelihatan sama sekali . Dalam kondisi yang demikian, orang tidak dapat melihat apapun, sehingga aktifitas manusia terhenti sama sekali.

2. Dalam kondisi gelap, orang tidak dapat membedakan warna, besar kecilnya barang, jenis barang maupun keindahan suatu barang. Yang ada hanyalah meraba-raba atau menduga duga.

3. Timbul rasa kantuk yang membuat orang tidur.

Kalau kita melihat dari dimensi bathinnya adalah : jika Sistem kehidupan Allah sebagai sistem kehidupan yang fitrah telah dikafiri oleh manusia, maka kehidupan yang semula terang benderang menjadi gelap gulita. Dalam kondisi itu manusia tidak dapat membedakan mana yang benar mana yang salah yang ada hanyalah kebenaran spekulatif. Manusia akan berjalan seperti orang yang berjalan di malam gelap yang tak menentu arah dan tujuan serta selalu berakhir dengan kesesatan dan kerusakan.

Keadaan sebaliknya yaitu perubahan dari gelap kepada terang. Jika hari berubah dari malam kepada siang, seluruh makhluk di bumi menyambutnya dengan suka cita. Pohon yang semula tidur, tunduk merunduk kini segar kembali, semua makhluk hewan yang mencari makan di siang hari bangun termasuk manusia didalamnya.

Demikian halnya dengan kehidupan bathin manusia, jika matahari memancarkan sinarnya pertanda akan siang, maka makhluk Allah dibumi akan menyambutnya dengan penuh semangat dan kegembiraaan. Perubahan alam adalah Sunnatullah yang tidak pernah berubah, demikian halnya pergantian atau pergiliran antara kekuasaan Allah dan kekuasaan bukan Allah (kekuasaan bangsa-bangsa) adalah Sunnatullah yang akan selalu terjadi.

Setiap umat punya batas waktu. Kita bicara masalah umat berarti bicara masalah kekuasaan. Tiap kekuasaan pasti ada ajalnya. Kehancurannya tidak bisa dimajukan dan tidak bisa dimundurkan. Karena ini adalah program Allah, maka tidak ada suatu kekuatan di bumi yang dapat merubah ketetapan Allah. Tidak ada suatu kekuatan pun yang bisa menghancurkan selama ajalnya belum sampai. Sebaliknya Saudara, kalau memang ajalnya sudah sampai, sekuat apapun bangsa itu, semakmur apapun dia, sepandai apapun para pemimpinnya, secanggih apapun peralatan militernya, sekuat apapun politik partainya, tetapi kalau sudah sampai ajalnya tidak bisa dimajukan dan tidak bisa dimundurkan. Kekuasaan bangsa-bangsa yang tadi lagi gagah-gagahnya itu, karena rumusnya dia sudah sampai umurnya hari ini, jadi sekaranglah masanya di mana kekuasaan bangsa-bangsa itu akan hancur, dan sekaranglah masanya di mana kekuasaan Allah akan tegak kembali di muka bumi. Oleh sebab itu kita hanya mengabdi kepada Allah yang pasti, Allah yang tidak main-main dalam hidup ini, yang tidak pernah berubah ketetapannya, bukan Allah yang mudah-mudahan, yang semau-maunya, tetapi yang pasti akan memenuhi janjinya.

Tatkala manusia sudah tidak sanggup lagi mencari jalan keluar untuk mengatasi konflik besar atau kemelut besar di antara mereka yang mengancam kehidupan, maka datanglah pertolongan Allah, berupa umat yang akan menjadi penengah, umat yang akan menjadi wasit dalam kemelut dunia. Kalau tidak adanya pertolongan Allah, artinya tidak adanya ummat yang bertindak sebagai wasit, maka manusia bisa punah, bangsa terbunuh dengan bangsa. Yang paling berbahaya adalah kotak-kotak etnis, dan kotak-kotak ideologi, orang yang tidak seideologi dengan mereka adalah musuh yang harus dibunuh habis, contohnya komunis, liberalis. Kita bisa melihat kotak nasionalis, bangsa Rusia menganggap bahwa orang yang bukan bangsa Rusia adalah binatang, sama pula dengan bangsa Inggris menganggap bahwa orang yang bukan bangsa Inggris boleh diperlakukan apa saja, karena dianggap binatang, demikian juga bangsa Indonesia menganggap bahwa orang yang bukan bangsa Indonesia itu sama dengan musuh bagi faham kebangsaan. Kita lihat tiap hari ada usaha untuk menghancurkan lintas banga-bangsa, dan hanya konsep langitlah yang dapat mengatasinya.

Ketahuilah! Bahwa alam dan kondisi kehidupan hari ini sudah memberikan tanda-tanda bagi manusia tentang apa yang terjadi. Bahwa sejarah akan terulang lagi, ketetapan Allah akan berlaku lagi, yaitu kebangkitan hukum Allah atau kerajaan Allah di muka bumi. Kembalinya Darussalam atau Yerussalem sebagai kota terang Allah. Bumi akan terang setelah gelap, dunia akan siang setelah malam, manusia akan keluar dari kondisi kegelapan menuju terang Allah, aman, adil, damai, dan sejahtera, serta diberkati Allah.

Bukan Korban Persembahan Yang Diminta Tu(h)an, Tetapi.......

Segala puji dan kekaguman kita hanya kepada Allah, Tu(h)annya Adam, Tu(h)annya Nuh, Tu(h)annya Abraham, Tu(h)annya Ismael, Tu(h)annya Ishak, Tu(h)annya Israel, Tu(h)annya Musa, Tu(h)annya Yesus, Tu(h)annya Muhammad, serta Tu(h)annya alam semesta, Raja yang merajai kerajaan langit dan bumi, yang menciptakan, yang menghidupkan dan yang mematikan, Raja dan Penguasa yang haq untuk ditaati, Penguasa alam dan kehidupan umat manusia yang beredar dari masa ke masa, dari generasi ke generasi yang tidak pernah berubah ketetapan-Nya. Allah adalah Tu(h)an yang haq dan yang tetap, bukanlah Tu(h)an yang suka berubah-rubah prinsip penciptaan-Nya, yang suka berganti ketetapan-Nya, yang semau-mauNya, tetapi Allah yang pasti, yang tidak pernah berubah ketetapan-Nya.

Tidak ada yang lebih agung melainkan Dia Tu(h)an semesta alam, maka sudah sepantasnya kita memposisikan diri kita sebagai ‘abid/hamba/budak di hadapan-Nya. Memposisikan diri kita sebagai objek kehidupan, dan menempatkan Dia sebagai Subjek dalam kehidupan. Dengan demikian pastaskah kita mengatur diri kita sendiri??

Perhatikan dunia hari ini, banyak manusia yang melakukan persembahan-persembahan kepada Tuhan Allahnya sementara mereka mengabdi kepada Allah lain yang tidak mereka kenal. Perhatikan firman Tu(h)an semesta alam Allah Abraham yang tertuang dalam kitab suci:

“Untuk apa itu korbanmu yang banyak-banyak?" firman Tu(h)an; "Aku sudah jemu akan korban-korban bakaran berupa domba jantan dan akan lemak dari anak lembu gemukan, darah lembu jantan dan domba-domba dan kambing jantan tidak Kusukai. Apabila kamu datang untuk menghadap di hadirat-Ku, siapakah yang menuntut itu dari padamu, bahwa kamu menginjak-injak pelataran Bait Suci-Ku? Kamu telah menjadikannya sebagai sarang penyamun!! Jangan lagi membawa persembahanmu yang tidak sungguh, sebab baunya adalah kejijikan bagi-Ku. Kalau kamu merayakan bulan baru, hari raya, dan sabat atau mengadakan pertemuan-pertemuan, Aku tidak tahan melihatnya, karena perayaanmu itu penuh kejahatan. Perayaan-perayaan bulan barumu dan pertemuan-pertemuanmu yang tetap, Aku benci melihatnya, semuanya itu menjadi beban bagi-Ku. Apabila kamu menadahkan kedua tanganmu untuk berdoa, meneteskan kedua air matamu, menyibukkan mulutmu dengan ucapan untuk menyebut nama-Ku, Aku akan tetap memalingkan muka-Ku, bahkan sekalipun kamu berkali-kali berdoa, Aku tidak akan mendengarkannya, sebab tanganmu penuh dengan darah, dan mulutmu menajiskan-Ku”

Jadi bisa kita lihat, bahwa HARI INI bukan lagi persembahan-persembahan ritus yang tu(h)an Allah kehendaki, kenapa? karena persembahan yang ditujukan kepada Allah tidak bisa dilakukan di tanah yang terkutuk, di tanah yang penuh darah dan kekejian, di tanah yang tidak suci. Dikarenakan Allah adalah kudus atau suci.

Perhatikan Kitab Keluaran 8:25-27 : “Lalu Firaun memanggil Musa dan Harun serta berkata: "Pergilah, persembahkanlah korban kepada Allahmu di negeri ini." Tetapi Musa berkata: "Tidak mungkin kami berbuat demikian, sebab korban yang akan kami persembahkan kepada Tu(h)an Allah kami, adalah kekejian bagi orang Mesir. Apabila kami mempersembahkan korban yang menjadi kekejian bagi orang Mesir itu, di depan mata mereka, bukankah mereka akan melempari kami dengan batu? Kami harus pergi ke padang gurun tiga hari perjalanan jauhnya untuk mempersembahkan korban kepada Tu(h)an Allah kami, seperti yang difirmankan-Nya kepada kami."

Sebenarnya tujuan manusia melakukan persembahan untuk menenebus dosanya, untuk mendapatkan keselamatan dirinya, serta untuk memuliakan Tuhannya. Tetapi Tu(h)an tidak menghendaki persembahan mereka. Perhatikan firman berikut ini : “Engkau tidak akan bisa memuliakan Aku dengan korban sembelihanmu. Engkau juga tidak akan mengenyangkan Aku dengan lemak korban sembelihanmu itu. Dan Aku tidak memberati engkau dengan menuntut korban-korban sajian atau menyusahi engkau dengan menuntut kemenyan. Tetapi engkau telah memberati Aku dengan dosamu, dengan persundalanmu itu, engkau telah menyusahi Aku dengan kelakuanmu menyembah berhala disamping korban sajian yang engkau persembahkan kepada-Ku. Engkau tetap melakukannya sebab engkau buta dan tuli.”

Perhatikan Surat Q.S Al-An’aam ayat 136 : “Dan mereka memperuntukkan bagi Allah satu bagian dari tanaman dan ternak yang telah diciptakan Allah, lalu mereka berkata sesuai dengan persangkaan mereka: "Ini untuk Allah dan ini untuk berhala-berhala kami." Maka saji-sajian yang diperuntukkan bagi berhala-berhala mereka tidak sampai kepada Allah; dan saji-sajian yang diperuntukkan bagi Allah, maka sajian itu sampai kepada berhala-berhala mereka. Amat buruklah ketetapan mereka itu.”

Perhatikan pula firman Tu(h)an semesta alam: “Engkau melakukan banyak persembahan dengan korban sembelihan atau kemenyan dihadapanku, tetapi engkau tidak mengasihi Aku, engaku tidak mengabdi kepada-Ku, engkau tidak taat pada hukum-hukum-Ku, engkau telah memperkosa hukum-Ku dan menajiskan hal-hal yang kudus bagi-Ku, engkau tidak membedakan antara yang kudus dengan yang tidak kudus, tidak mengajarkan perbedaan yang najis dengan yang tahir, engkau pula menutup mata terhadap hari-hari Sabat-Ku. Aku telah engkau najiskan. Disamping engkau telah memperkosa hukum-Ku, engkau telah memperkosa hak-hak orang miskin dan menindasnya, tidak ada belas kasih terhadap sesama.

Perhatikan firmanku yang tertulis dalam kitab: “Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan. “Celakalah kamu hai kamu orang-orang munafik, sebab persepuluhan dari selasih, adas manis dan jintan kamu bayar, tetapi yang terpenting dalam hukum Taurat kamu abaikan, yaitu: keadilan dan belas kasihan dan kesetiaan.”

Tertulis juga dalam kitab Allah : "Cintailah Tu(h)an, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasih dan sayangilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.” Ingatlah, kamu tidak akan pernah mempunyai rasa kasih dan sayang terhadap sesama manusia manakala kamu tidak mencintai tu(h)an Allahmu sepenuh hatimu. Bagaimana kamu bisa mencintai Tu(h)an Allahmu, sementara kamu tidak mengenalnya sama sekali? Bagimana mungkin sang budak bisa mengabdi kepada tuannya, semestara sang budak tidak mengenal tuannya? Sia-sialah pengabdiannya. Mengenal tuan adalah mengenal sifat dan karakter sang tuan, mengenal kebiasaan sang tuan, mengenal apa yang tuannya benci dan apa yang tuannya sukai. Bagaimana mungkin pula kalau tidak mengerti dan memahami sejarah, bisa mengenal tuannya dengan baik, musthail! Karena sifat-sifat sang tuan sudah ditampakkan di dalam perjalanan sejarah umat manusia sejak Adam hingga hari ini. Dan satu yang menarik kalau kita amati, adalah tidak ada perubahan sifat dan karakter yang ditampakkannya.

Tidak selamanya cinta akan terus menjadi cinta. Suatu masa cinta akan bisa berubah menjadi kebencian, manakala yang semula dicintainya telah diduakannya. Seperti dalam firman-Nya yang tertuang dalam ‘ten commandments’ : “Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku. Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apa pun yang ada di langit di atas, atau yang ada di bumi di bawah, atau yang ada di dalam air di bawah bumi. Jangan sujud menyembah kepadanya atau beribadat kepadanya, sebab Aku, Tu(h)an, Allahmu, adalah Allah yang CEMBURU.

Perhatikan dalam Surat Al-Anfaal ayat 35 : “Persembahan mereka di sekitar Bait Allah itu, lain tidak hanyalah siulan dan tepukan tangan. Maka rasakanlah kemurkaan-Ku disebabkan kekafiranmu itu.

Bagimana mungkin manusia bisa beribadah kepada Allah kalau tidak ada tempatnya, bagaimana mungkin pula manusia bisa melakukan persembahan-persembahan kepada Allah kalau tidak ada wadahnya. Tempat-tempat peribadatan, sebenarnya adalah simbol dari perwujudan kerajaan Allah yang tegak di muka bumi. Segala sesuatu ada simbolnya, dan segala simbol ada maknanya. Amerika serikat mempunyai simbol patung liberty, Indonesia mempunyai simbol tugu monument nasional. Jadi kalau kerajaan Allah sudah tidak ada lagi dalam artian sudah hancur dan berganti dengan kerajaan bangsa-bangsa yang berdiri atas pilar ideologi manusia, terus apakah fungsi dari pada tempat-tempat peribadatan itu sendiri? Sehingga mengertilah kamu mengapa Tu(h)an Allah dalam kitabnya sangat membenci adanya persembahan-persembahan di bait Allah itu sendiri.

Perhatikan Kitab ratapan 2:7 : “Tuhan membuang mezbah-Nya, meninggalkan tempat kudus-Nya, menyerahkan ke dalam tangan seteru tembok puri-purinya.” Perlu difahami bahwa Kitab Ratapan adalah bani Israel meratap kepada tu(h)an Allahnya. Itu terjadi ketika kerajaan Allah yang dibangun oleh Musa sudah hancur berganti dengan kerajaan bangsa-bangsa. Pada saat itu Tu(h)an membuang Mezbah-Nya, meninggalkan tempat kudus-Nya. Sehingga mereka (Bani Israel) tidak bisa melakukan persembahan-persembahan lagi di mezbah atau di tempat-tempat kudus mereka.

Jadi kesimpulannya, selama kerajaan Allah tidak ada di muka bumi, selama itu pula manusia tidak bisa beribadat kepada Tu(h)an semesta alam. Bangun dulu kerajaan Allah, baru bisa melakukan peribadatan kepada-Nya.

Segala puji bagi tu(h)an ‘Robb’ semesta alam, Allah Abraham.

Kisah Perjalanan Hidup Abraham

Di kalangan Yahudi Abraham adalah sosok yang terpuji dan dimuliakan, karena baginya dia adalah bapak atau nenek moyang bangsa Israel, bapak para nabi dan orang yang termasyur di bangsanya yaitu Israel. Dalam kalangan Nashrani disebut juga bapak para nabi dan nenek moyang Yesus. Dalam kalangan Islam juga merupakan sosok yang dipuji dan dijadikan suri tauladan yang baik karena dia termsuk orang yang hanif.

Setelah kerajaan Allah yang dibangun Nuh runtuh, beberapa ratusan tahun kemudian lahirlah seorang anak manusia yang bernama Abraham dari bangsa Babel. Dimana Abraham hidup pada zaman kezhaliman dimana hukum-hukum yang berlaku pada saat itu bukan hukum Allah tapi hukum manusia. Pada saat itu yang berkuasa adalah raja Namrudz. Namrudz berniat untuk mewujudkan tatanan dunia baru, menghapus batas Negara, dunia dengan satu ideologi, hukum, ekonomi, dan kewilayahan. Namrudz mengusung Ide Internasional yang saat ini disebut United Nations (Perserikatan Bangsa-Bangsa) dan yang terkenal dengan UU Hamurabi.

Abraham adalah seorang putera pemahat patung yang bekerja kepada Namrudz, yaitu namanya Azaar. Pemahat patung artinya pembuat UU atau ketetapan yang duduk dalam lembaga Legislatif. Dimana dulu Abraham mencari kebenaran ke mana-mana, dia mencari Tu(h)an yang paling benar dengan memperhatikan matahari, bulan, dan bintang. Maksud Abraham mencari Tu(h)an yang dilambangkan dengan matahari, bulan, dan bintang adalah Abraham masuk dalam organisasi atau partai atau aliran yang berlambang seperti matahari, bulan, dan bintang, tetapi Abraham merasa tidak menemukan tu(h)an sejati di situ dan tu(h)an yang mereka (bangsanya) abdi adalah bukan tu(h)an yang sejati pencipta langit dan bumi. Akhirnya Abraham berhasil menemukan tu(h)an yang sejati yaitu Allah karena kegigihan Abraham di dalam mencari tu(h)annya, hingga Allah mau menghampiri Abraham. Abraham menjaga dan melaksanakan perintah Allah dengan konsisten. Abraham menentang Ide yang dikemukakan oleh Namrudz itu. Karena bagi Abraham Ideologi yang melandasi United Nations bukan ideologi yang benar sesuai dengan kehendak Allah. Tapi ide itu buatan manusia yang berdasarkan nafsu belaka yang akan menjerumuskan manusia, maka Abraham berdakwah kepada bangsanya termasuk kepada ayahnya. Dengan tangan kanannya, Abraham memukul patung-patung kecil sampai hancur dan membiarkan patung yang besar.

Lalu dihadapinya berhala-berhala itu sambil memukulnya dengan tangan kanannya (dengan kuat). ”(Surat 37 : 93)

Maka Abraham membuat berhala itu hancur terpotong-potong, kecuali berhala yang terbesar agar mereka kembali bertanya kepadanya. Maksud dari ayat tersebut adalah Abraham menghancurkan kekuatan-kekuatan politik atau partai-partai politik bangsa-bangsa Babel dan membiarkan kekuatan politik atau partai politik yang terbesar tetap berkuasa agar orang-orang Babel mengira bahwa yang menghancurkan kekuatan atau partai-partai politik yang kecil adalah kekuatan atau partai politik yang terbesar.

Dakwah Abraham menimbulkan kekacauan politik pada bangsa Babel. Mereka bermaksud membakar Abraham dengan api, akan tetapi usaha itu tidak berhasil .

Mereka berkata: "Bakarlah dia dan bantulah tuhan-tuhan kamu, jika kamu benar-benar hendak bertindak." Kami berfirman: "Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim." (Surat 21 : 68- 69)

Api tersebut adalah api emosi yang membakar akal fikiran manusia. (Surat 104 : 6-7)

Maksudnya orang-orang Babel mencoba membuat atau menjebak Abraham agar terpancing emosinya, tapi hal itu tidak berhasil karena Abraham berpikir dengan kepala dingin dan dia tidak pernah melanggar hukum Negara sehingga tidak ada satu alasan pun yang dapat menyeret Abraham ke pengadilan.

Karena kondisi sudah tidak memungkinkan untuk berdakwah di Bangsa Babel, maka atas perintah Allah ia bersama orang yang menyertainya meninggalkan orang tuanya dan bangsa Babel menuju tanah yang Allah tunjukkan kepada mereka yaitu tanah perjanjian. Yang turut menyertai perjalanan Abraham adalah Sarai Istrinya dan Luth anak saudaranya. Maka sampailah mereka ke tanah kana’an. Mereka menumpang pada Abimelekh, Raja Kana’an (palestina) dan mereka sebagai orang asing.

Oleh karena di kana’an terjadi kekeringan dan mereka kalaparan, Abraham dan orang-orang yang menyertainya pindah ke Mesir. Abraham bertemu dengan Raja Mesir (Fir’aun). Ketika Fir’aun berkata kepada Abraham siapakah wanita itu (Sarai)? Abraham menjawab dia adalah saudaraku. Karena kalau ketahuan bahwa Sarai adalah Istri Abraham maka Abraham akan dibunuh. Fir’aun hendak menjadikan Sarai sebagai istrinya. Tetapi ketahuan bahwa Sarai adalah istri Abraham, akhirnya mereka disuruh pergi dari Mesir kembali ke Kana’an.

Ada satu kejadian janggal, mengapa Firaun merasa dibohongi oleh Abra ham. Ini karena Firaun tidak bertanya kepadanya apakah Sarai itu istrinya, tetapi hanya bertanya, siapakah Sarai. Maka Abra ham menjawab, bahwa Sarai adalah adiknya, dan Sarai pun mengiyakan. Karena memang Abra ham dan Sarai adalah saudara satu bapak tapi lain ibu. Maka Abra ham tidak berbohong dalam hal ini. Abra ham adalah hamba Allah yang amat taat, dia adalah Nabi, dan tidak mungkin seorang Nabi seperti Abra ham berbohong. Dan mengapa Firaun setelah tahu kejadian ini, dia tidak membunuh Abra ham. Ini karena dia mengetahui latar belakang Abra ham adalah anak orang berpengaruh di Babel, dan juga seorang Nabi yang sedang membawa misi kenabian. Kejadian ini terulang pada saat dia dan Sarai pergi ke Negeri Gerar dimana Abimelekh menjadi Rajanya, yang diceritakan dalam Kejadian 20:1-18.

Setelah pulang ke Kana’an Abraham kembali ke Mesir lagi, sedangkan Sarai dan Luth ditinggal di Kana’an. Di mesir Abraham bertemu dengan raja Mesir yang lain dan dikasih hadiah putri seorang raja Mesir. Wanita itu adalah Hagar seorang wanita bangsawan dari Mesir. Karena sudah lama sekali Sarai tidak mempunyai keturunan, Sarai mengizinkan Abraham menikah dengan Hagar. Kemudian Abraham kembali ke Kana’an. Ketika Abraham berusia 86 tahun, Hagar melahirkan Ismael anak pertama Abraham. Kemudian 14 tahun kemudian lahirlah Ishaq anak kedua Abraham dari istri pertamanya (Sarai).

Karena Abraham konsisten dalam memegang kebenaran dan setia kepada Allah dan mengikuti perintah Allah, maka Allah memilihnya dan menjadikan Imam segala bangsa dan anak cucunya akan menjadi penguasa dunia, seluruhnya diberikan kepada mereka, khususnya Kana’an sebagai tanah perjanjian.

“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Robnya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman: "Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia". Ibrahim berkata: "(Dan saya mohon juga) dari keturunanku. Allah berfirman: "Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang yang zalim.”(Surat 2 : 124)

Setelah Lot berpisah dari pada Abram, berfirmanlah TUHAN kepada Abram: "Pandanglah sekelilingmu dan lihatlah dari tempat engkau berdiri itu ke timur dan barat, utara dan selatan,(Kejadian 13 : 14)

Ssebab seluruh negeri yang kaulihat itu akan Kuberikan kepadamu dan kepada keturunanmu untuk selama-lamanya. (Kejadian 13 : 15)

Dan Aku akan menjadikan keturunanmu seperti debu tanah banyaknya, sehingga, jika seandainya ada yang dapat menghitung debu tanah, keturunanmu pun akan dapat dihitung juga.(Kejadian 13 : 16).

Bersiaplah, jalanilah negeri itu menurut panjang dan lebarnya, sebab kepadamulah akan Kuberikan negeri itu. (Kejadian 13 : 17)

Ketika Ismail sudah cukup umur dan karena Sarai takut kalau tahta Abraham akan jatuh kepada Ismael, maka Sarai menyuruh Abraham untuk mengusir Hagar dan Ismael. Istilah “pengusiran” di sini adalah bahasa amsal, yang berarti mengharuskan Ismael untuk ditempatkan ke Mekkah. Kenapa? Karena ini adalah strategi Abraham di dalam menggenapi janji Allah kepadanya dan keturunannya. Pada saat Ismael memasuki “usia yang sanggup diajak kerja sama”, maka Ismael dikorbankan oleh Abraham atas perintah Allah, yaitu Ismael diutus Abraham ke Makkah untuk membersihkan Ka’bah dari kaum atau suku jurhum, artinya membersihkan Ka’bah dari kemusyrikan. Jadi istilah dikorbankan disini bukanlah disembelih, tetapi dilimpahi “tugas suci” membawa misi dari Allahnya Abraham. Dalam Kitab Kejadian 22 : 1-3 , Allah hendak menguji keimanan Abraham dengan menyuruhnya mempersembahkan Ishak sebagai korban untuk disembelih. Jadi Ishak pun juga dikorbankan dalam artian membawa misi Abraham di kanaan, sementara Ismael membawa misi Abraham di Mekkah. Mereka berdua sama-sama diberkati oleh Allah. Jadi sebenarnya apa misi yang dibawa oleh Abraham dan diwariskan kepada keturunannya? Yakni misi : “tidak ada yang diper-TUAN kecuali Allah, tidak ada yang berhak ditaati atau diabdi kecuali hanya Allah pengatur semesta alam”. Manusia tidak boleh memiliki dua TUAN dalam kehidupannya, yang menyebabkan dia mempersekutukan Allah. Misi inilah yang akan ditegakkan oleh keturunannya yang mewarisi ideologinya Abraham, yakni Musa, Yesus, dan Muhammad.

Karakteristik Kerajaan Allah

Kerajaan Allah merupakan politik legal yang harus tergenapi dalam kehidupan masyarakat dunia. Kerajaan Allah merupakan lembaga resmi yang menjalankan aturan Allah, menjalankan kekuasaan Allah, dan menjalankan ketaatan hanya kepada Allah semata. Di dalam Alkitab banyak ayat-ayat yang mendeskripsikan tentang kerajaan Allah yang dimaksud oleh Yesus, dan secara kongkrit Kerajaan Allah itu sendiri adalah kekuasaan politik yang dibangun oleh Yesus. Karakteristik Kerajaan Allah menurut Alkitab adalah sebagai berikut:

I. Sebuah Teritorial

1. Kerajaan Harus Dimasuki

Lalu Yesus memandang dia dan berkata: "Alangkah sukarnya orang yang beruang masuk ke dalam Kerajaan Allah. Sebab lebih mudah seekor unta masuk melalui lobang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah."

Lukas 18:24-25

2. Dapat Dilihat Langsung

Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya di antara orang yang hadir di sini ada yang tidak akan mati sebelum mereka melihat Kerajaan Allah."

Lukas 9:27

II. Makan Saat Paskah

Kata-Nya kepada mereka: "Aku sangat rindu makan Paskah ini bersama-sama dengan kamu, sebelum Aku menderita. Sebab Aku berkata kepadamu: Aku tidak akan memakannya lagi sampai ia beroleh kegenapannya dalam Kerajaan Allah." Kemudian Ia mengambil sebuah cawan, mengucap syukur, lalu berkata: "Ambillah ini dan bagikanlah di antara kamu. Sebab Aku berkata kepada kamu: mulai dari sekarang ini Aku tidak akan minum lagi hasil pokok anggur sampai Kerajaan Allah telah datang."

Lukas 22:15-18

Paskah = Independence day / Hari kemerdekaan dari penjajahan dan perbudakan bangsa-bangsa.

III. Status & Kedudukan

HUKUM ALLAH

Karena itu siapa yang meniadakan salah satu perintah hukum Taurat sekalipun yang paling kecil, dan mengajarkannya demikian kepada orang lain, ia akan menduduki tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan Sorga; tetapi siapa yang melakukan dan mengajarkan segala perintah-perintah hukum Taurat, ia akan menduduki tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Sorga. (Matius 5:19)

HUKUM MANUSIA

Akhirnya, hendaklah kamu kuat di dalam Tuhan, di dalam kekuatan kuasa-Nya. Kenakanlah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat bertahan melawan tipu muslihat Iblis; karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara. Sebab itu ambillah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat mengadakan perlawanan pada hari yang jahat itu dan tetap berdiri, sesudah kamu menyelesaikan segala sesuatu. Jadi berdirilah tegap, berikatpinggangkan kebenaran dan berbajuzirahkan keadilan, kakimu berkasutkan kerelaan untuk memberitakan Injil damai sejahtera; dalam segala keadaan pergunakanlah perisai iman, sebab dengan perisai itu kamu akan dapat memadamkan semua panah api dari si jahat, (Efesus 6:10-16)

IV. Penghakiman kedua belas suku Israel

Kamulah yang tetap tinggal bersama-sama dengan Aku dalam segala pencobaan yang Aku alami. Dan Aku menentukan hak-hak Kerajaan bagi kamu, sama seperti Bapa-Ku menentukannya bagi-Ku, bahwa kamu akan makan dan minum semeja dengan Aku di dalam Kerajaan-Ku dan kamu akan duduk di atas takhta untuk menghakimi kedua belas suku Israel.

Lukas 22:28-30

V. Memenuhi Kebutuhan Materi

Sebab itu janganlah kamu kuatir dan berkata: Apakah yang akan kami makan? Apakah yang akan kami minum? Apakah yang akan kami pakai? Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu yang di sorga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu. Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.

Matius 6:31-33

Dengan dihadirkannya Kerajaan Allah maka semua kebutuhan materi manusia terpenuhi secara adil, merata dan bijaksana. Kesejahteraan sosial bagi seluruh rakyat dunia hanya mampu digenapi oleh Kerajaan Allah semata. Tidak ada satupun hukum dari bangsa-bangsa yang mampu menggenapinya.

VI. Seperti Biji Sesawi

Yesus membentangkan suatu perumpamaan lain lagi kepada mereka, kata-Nya: "Hal Kerajaan Sorga itu seumpama biji sesawi, yang diambil dan ditaburkan orang di ladangnya. Memang biji itu yang paling kecil dari segala jenis benih, tetapi apabila sudah tumbuh, sesawi itu lebih besar dari pada sayuran yang lain, bahkan menjadi pohon, sehingga burung-burung di udara datang bersarang pada cabang-cabangnya."

Matius 13:31-32

Berawal dari Iman dan diakhiri dengan penegakkan hukum Allah dimuka bumi.

Semua karakteristik tersebut merupakan manifestasi dari Hukum Kasih Allah sebagaimana yang tercantum pada Matius 22:34-40

Ketika orang-orang Farisi mendengar, bahwa Yesus telah membuat orang-orang Saduki itu bungkam, berkumpullah mereka dan seorang dari mereka, seorang ahli Taurat, bertanya untuk mencobai Dia: "Guru, hukum manakah yang terutama dalam hukum Taurat?" Jawab Yesus kepadanya: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi."

Warta Utama Muhammad Sebagai Sang Mesias

Gereja menolak bahwa Muhammad adalah penggenapan dari nubuah Yesus tentang “Sang-Penghibur”. Gereja menolak Muhammad sebagai kelanjutan dari perjalanan misi Yesus. Mereka mengatakan Muhammad kaum “ummi”, bukan Bani Israil. Bani Israil menolak Muhammad. Bagi mereka tidak mungkin Tuhan Allah Abraham mengangkat seorang Mesias dari kalangan bukan Bani Israil. Itu sesuatu yang tidak mungkin bagi mereka. Padahal Allah pernah berjanji kepada Siti-Hagar: “Bahwa dari garis Siti-Hagar pun Allah akan menjadikan keturunannya menjadi bangsa besar, menjadi imam bagi manusia”. Nubuah tentang keturunan Ismail akan menjadi bangsa yang besar.

Muhammad bukanlah membawa agama orang Arab, bukan membawa ajaran agama baru. Muhammad menyeru ahlul-kitab, “hai ahlul-kitab, marilah kita kembali kepada ajaran yang sama (satu), tidak ada perbedaan diantara kita; Jangan persekutukan Allah ”.

Ketidakpahaman orang-orang yang mengaku pengikut Muhammad hari ini, mereka tidak melihat risalah ini menyambung kepada Musa, menyambung kepada Yesus, menyambung kepada Nabi-Nabi Bani Israil. Mereka mengatakan bahwa Muhammad adalah Nabi baru bangsa Arab, tidak ada hubungannya dengan Musa, tidak ada hubungannya dengan Yesus, tidak ada hubungannya dengan Bani Israil. Muhammad itu membawa ajaran agama baru yang dia dapatkan dari Tuhan, tidak ada hubungan dengan kitab-kitab (Taurat, Injil) sebelumnya, kata mereka.

Kalau kita perhatikan, sesuai dengan fakta sejarah, Muhammad merupakan orang yang paling rajin berkunjung ke Palestina dari usia 25 tahun hingga 35 tahun. Bahkan tatkala dia masih usia kanak-kanak Muhammad diajak pamannya berdagang ke negeri Syam di Palestina. Di Palestina inilah Muhammad melihat dan membaca pola hidup orang-orang Yahudi dan Nashrani. Al-Kitab bukanlah sesuatu bacaan yang asing di negeri Mekah pada zaman Muhammad. Sebab Waraqah bin Naufal, paman Khadijah adalah seorang pendeta Nashrani yang menafsirkan kitab Injil kedalam bahasa Arab. Waraqah bin Naufal juga pernah bertindak sebagai wali yang menikahkan Muhammad dengan Khadijah keponakannya.

Muhammad merupakan seorang laki-laki cerdas dan tidaklah mustahil baginya apabila dia mengetahui, memahami kitab-kitab Taurat dan Injil. Dapat dipastikan Muhammad adalah seorang laki-laki yang sangat memahami kitab-kitab Taurat dan Injil. Sebab di Mekah ketika itu Taurat dan Injil merupakan bacaan yang popular ditengah-tengah masyarakatnya.

Tetapi masalahnya, tidak ada dasar bagi Muhammad untuk bisa mengimani Taurat dan Injil. Dia tidak puas melihat perilaku inkonsistensi para penganut maupun para pemuka Taurat dan Injil. Pada periode itu sebelum Allah berikan petunjuk kepada Muhammad, Al-Quran mengatakan Muhammad adalah seorang laki-laki yang sesat (wa wajadaka dhollan fa hadaa ). Allah berkata: “Aku jumpai engkau (Muhammad) adalah seorang yang sesat, kemudian Kami memberimu petunjuk ”, (QS. 93:7) .

Muhammad melihat perilaku manusia yang mengaku hamba Allah ketika itu, tidak sesuai dengan apa yang tertulis pada Al-Kitab. Dia bertanya-tanya, apakah ajaran yang benar itu adalah ajaran Yahudi, Nashrani atau ajaran Ismailisme-Arab? Semua pengikut ajaran itu menyebut Isme-Allah. Saat itu sangat membingungkan baginya menetapkan pilihannya. Muhammad bertanya-tanya, Yang manakah yang benar?

Barulah kemudian disebabkan saahnya telah tiba dan didasarkan kesungguhannya, sampailah Muhammad kepada tahap “petunjuk”. Allah memberikan petunjuk kepadanya, Muhammad dibimbing oleh Allah.

Kalau kita bandingkan antara Al-Quran dengan Taurat dan Injil tentang masalah cerita-cerita sejarah, banyak kita melihat perbedaannya. Tetapi tentu saja masih tetap ada banyak persamaannya. Banyak kisah yang tidak dijelaskan pada Al-Quran, tetapi penjelasannya ada pada Taurat dan Injil.

Allah berkata kepada Muhammad : “Bertanyalah kamu kepada ahlul-kitab kalau kamu tidak mengetahuinya”. Disini kita melihat, Nabi Muhammad merupakan orang yang tidak menutup diri, terutama tentang sejarah Bani Israil.

Tugas Muhammad adalah menegakkan kembali yerusalem yang pernah dibangun oleh Yesus, dalam bahasa Israel disebut Jerusalem.

Al-Quran mengatakan dalam (QS. 6:161) Katakanlah: "Sesungguhnya aku telah ditunjuki oleh Tuhanku kepada jalan yang lurus, (yaitu) system kehidupan yang benar; millah Ibrahim yang lurus; dan Ibrahim itu bukanlah termasuk orang-orang yang musyrik" .

Dalam (QS. 16:123) Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad): "Ikutilah millah Ibrahim seorang yang hanif." dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan .

Muhammad sendiri mengatakan: “Aku ini membawa Millah Abraham. Apa yang aku ajarkan kepadamu adalah apa yang tersebut di dalam shuhufnya Ibrahim, di dalam shuhufnya Musa”. Artinya, ajaran yang dibawa oleh Muhammad sama dengan ajaran yang dibawa oleh Ibrahim, sama dengan ajaran yang dibawa oleh Musa.

Bahwa yang dibawa oleh Muhammad adalah Millah Abraham dan Muhammad berhasil menegakkan kerajaan Allah, seperti Musa menegakkan Yerusalem kesatu, dan Yesus menegakkan Yerusalem kedua. Bahwa visi daripada semua Rasul Allah adalah sama dan semua Rasul itu dibimbing langsung oleh Allah.

Pergumulan Dua Jalan Dalam Sunnatullah

Muhammad sudah menubuatkan, umat yang dibangunnya itu pada suatu saat akan menghilang (hancur) kembali. Bahkan Al-Quran yang sudah diturunkan Allah pada periode Muhammad, pada suatu saat juga akan menghilang kembali. Tentang Al-Quran ini, Nabi mengatakan Al-Quran hanya tinggal huruf-hurufnya di atas kertas, di atas media tulis. Nabi berkata: “Pada suatu saat al-Quran ini akan banyak dibaca orang, tetapi hanya huruf-hurufnya saja ”. Perkataan Nabi yang seperti itu, hari ini sudah tergenapi. Hari ini, Al-Quran banyak dibaca orang tetapi hanya sekedar membunyikan huruf, tidak memiliki makna sama sekali. Hal itu sudah dinubuatkan oleh Muhammad.

Berkatalah Rasul: "Ya Tu(h)anku, sesungguhnya kaumku telah menjadikan Al Qur'an ini suatu yang tidak diacuhkan (tidak berguna)" . (QS. 25:30) .

Perkataan Nabi inipun juga sudah tergenapi. Faktanya sekarang ini, Al-Quran tidak lagi bermanfaat, tidak berguna, tidak lagi diacuhkan oleh orang-orang yang mengaku penerus-penerus umat Muhammad, seperti yang dahulu dibangunnya.

Terjadinya kondisi seperti ini, tidak lain disebabkan sunnatullah, karena memang seperti itulah tradisi Allah yang diberlakukan pada alam manusia dibumi ini. Mayoritas manusia dibumi hari ini, kurang memahami atau tidak sama sekali memahami makna dari kata sunnatullah.

Allah sebagai pengatur semesta alam me-manage semesta alam berdasarkan sebuah sistem, yang disebut tradisi Allah. Secara garis besar tradisi Allah ini adalah pergantian atau pergiliran suatu kondisi; Pergantian antara malam dan siang, pergantian antara budaya-kerajaan Allah dengan budaya bukan-kerajaan Allah, pergantian antara kepatuhan kepada Allah dengan kepatuhan kepada selain Allah. Dalam bahasa lain kita katakan juga, pergumulan antara dua jalan. Secara umum orang hanya melihat hidup ini pada satu jalan saja. Padahal Kitab Allah mengatakan sunatullah menciptakan dua jalan.

Kalau tidak memahami perjalanan sejarah daripada sunnatullah ini maka dapat dipastikan orang tidak akan paham kondisi ummat hari ini. Dalam kondisi apa ummat hari ini dan apa yang mesti mereka perbuat hari ini. Mereka justru mengira semua orang sudah beriman.

Pergumulan antara kedua peradaban ini. Hal ini harus betul-betul dipahami, sebab dari situlah nanti terjadinya qiyamah-qiyamah yang terjadi berulang kali, Dari situlah kita memahami kenapa ada banyak Nabi dan ada banyak Rasul. Dan apa hubungan rasul-rasul itu?

Sebagian besar manusia, tidak memahami hubungan ini. Mereka mengira ajaran Allah sebagai sebuah produk peradaban yang sifatnya evolutif, berkembang dari sesuatu yang sederhana sampai kepada kesempurnaan.

Mereka mengatakan, apa yang diajarkan Allah kepada Abraham merupakan ajaran yang belum sempurna dan kemudian disempurnakan oleh ajaran Musa. Kemudian, apa yang diturunkan Allah kepada Musa juga masih belum sempurna dan disempurnakan oleh Isa (Yesus). Selanjutnya, semua ajaran para Nabi dan Rasul yang masih belum sempurna itu disempurnakan oleh Muhammad. Setelah zaman Muhammad ini, maka sempurnalah ajaran agama Tuhan. Artinya mereka mengatakan, sebelum Muhammad diutus, agama Tuhan itu masih belum sempurna. Demikianlah pandangan mayoritas kaum agamis. Logika mereka mengatakan otak manusia berkembang, ilmu pengetahuan berkembang, dan karena orang-orang dahulu berpikirnya masih primitive, masih belum sempurna cara berpikirnya, maka diperlukan ada sihir dan mukjizat, supaya orang iman kepada Allah.

Hal ini sangat bertentangan dengan firman Allah dalam kitabNya dalam surat-48 ayat ke-23 :“Sebagai suatu sunnatullah yang telah berlaku sejak dahulu, kamu sekali-kali tiada akan menemukan perubahan bagi sunnatullah itu.”

Sunnatullah berasal dari kata Sunnah dan Allah. Sunnah sendiri turunan dari kata “sunanun” yang artinya perjalanan. Berarti Sunnatullah adalah perjalanan Allah. Kita tidak pernah menemukan adanya perubahan pada perjalanan Allah pada alam semesta maupun alam kehidupan manusia, dengan kata lain perjalanan Allah itu sifatnya tetap, dan berulang sepanjang masa. Karena sifatnya tetap dan berlaku sepanjang masa maka disebut juga sebagai tradisi Allah atau kebiasaan Allah.

Dalam Surat ke-3 ayat ke-84 : "Kami beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishaq, Ya'qub, dan anak-anaknya, dan apa yang diberikan kepada Musa, Isa dan para nabi dari Tuhan mereka. Kami tidak membeda-bedakan seorangpun di antara mereka dan hanya kepada-Nyalah kami menyerahkan diri."

Visi dan Misi mereka (para utusan Allah) sama, yakni membangkitkan kerajaan Allah, dalam bahasa Ibrani disebut Yerusalem, dalam bahasa Arab disebut Darusalam. Kenapa Allah mengutus Yesus? Karena “Yerusalem pertama” yang telah dibangun oleh Musa telah hancur. Dan selanjutnya kenapa Allah mengutus Muhammad? Karena apa yang telah dibangun oleh Yesus yakni “Yerusalem kedua” juga telah hancur. Dan apa warta utama Muhammad itu sendiri? Yakni membangun kembali kerajaan Allah yang telah hancur.

Proses perjalanan sunatullah panjang bergulir. Pada bahasan ini kita melihat perjalanan sunnatullah (tradisi) Allah, mulai dari sejarah perjalanan Abraham. Dari perjalanan sunatullah ini kita akan melihat dengan jelas hubungan Abraham dengan Musa, hubungan Musa dengan Yesus, hubungan Yesus dengan Muhammad dan hubungan Muhammad dengan Nabi dan Rasul pada generasi selanjutnya.

Penggenapan janji Allah kepada Abraham terjadi pada zaman Musa. Artinya, hubungan Abraham dengan Musa merupakan penggenapan janji Allah kepada Abraham. Kata-kata penggenapan tidak popular, tidak terpahami di dalam agamis Arab. Tentang hal ini, kita mengenal istilah “satu” adalah ganjil dan “dua” adalah genap. Artinya, pertama (kesatu) Allah berjanji dan kemudian yang kedua, janji itu mesti Dia penuhi atau digenapi-Nya. Istilah penggenapan ini harus betul-betul diyakini, dipahami. Tidak pernah ada di dalam kalangan ulama Islam-agamis menguraikan masalah tentang penggenapan ini.

Semua cerita Taurat, Injil dan Al-Quran, sebetulnya berbicara masalah-masalah politis; Essensinya berbicara tentang masalah politis. Masalah politis merupakan masalah kerajaan, masalah kedaulatan, masalah kekuasaan. Kalau berbicara masalah kekuasaan, maka bahasanya adalah masalah politik kekuasaan. Milik Allah lah seluruh kekuasaan yang ada di semesta alam; Allah adalah penguasa alam semesta.

Allah sudah menjadi Raja pada semesta alam, bagaimana dengan dibumi? Apakah dibumi Allah sudah menjadi Raja (malikinnas)? Tidak menjadi jaminan dibumi!! Justru yang sering terjadi pemberontakan kepada Allah itu adalah pada sistem kehidupan dunia manusia.

Tidak ada pemberontakan kepada Allah pada alam-semesta ini, diluar alam manusia. Tidak pernah ada makhluk-makhluk Allah di alam semesta berlaku kafir dan atau musyrik kepada Allah Tu(h)an Semesta Alam, kecuali manusia. Istilah-istilah perlawanan itu hanya ada pada alam kehidupan manusia. Dengan kata lain, Kerajaan Allah dimuka bumi ini terkadang muncul, terkadang juga hilang.

Ibadah kepada Allah di bumi ini baru bisa terlaksana, apabila ada Kerajaan Allah. Kalau ada Kerajaan Allah dibumi barulah manusia bisa beribadah kepada Allah. Umumnya pemahaman tentang perlunya Kerajaan Allah dimuka bumi, tidak dikenal dalam kalangan dunia agamis.

Menurut kitab-kitab Allah, hanya ada dua model kerajaan, yaitu kerajaan langit dan kerajaan bumi. Kerajaan Allah (Kerajaan Langit) hanya ada satu. Sedangkan kerajaan bumi, kerajaan yang dibuat oleh rekayasa manusia merupakan kerajaan bangsa-bangsa yang banyak sekali, dan dikatakan juga gabungan atau serikat, sebagai lawan dari Kerajaan Allah.

Pergantian atau silih bergantinya kebangkitan kekuasaan Kerajaan Langit dan kerajaan bumi, Allah mengatakan sebagai sebuah qiyamah atau kebangkitan (berdiri tegak). itu merupakan hari bangkit tegaknya Kerajaan Allah di bumi.

Disinilah kita melihat hubungan Ibrahim dengan Musa yaitu, pertama Allah berjanji kepada Ibrahim dan kedua janji itu digenapi oleh Musa. Penggenapan janji Allah kepada Ibrahim tergenapi pada Musa dengan tegaknya Kerajaan Allah Yerusalem, sehingga Bani Israil menjadi ummat kesayangan Allah, gunung Sion berada di atas bukit bangsa-bangsa, Yerusalem menjadi mercu-suar dunia.

Selanjutnya kita melihat hubungan Ibrahim dengan Isa (Yesus) putra Maryam. Di dalam kitab Perjanjian Lama maupun kitab Perjanjian Baru jelas sekali terlihat hubungan antara Musa dengan Isa putra Maryam.

Musa berjuang dalam rangka Allah menggenapi janji-Nya kepada Abraham, yaitu tegaknya Yerusalem. Tegaknya Yerusalem Kerajaan Allah itulah yang disebut dengan “Berkat” bagi Bani Israil dan semua manusia yang bernaung di bawah Kerajaan Allah Yerusalem tersebut. “Berkat” di dalam bahasa Arab dikatakan juga “Barokah”. Allah memberkati Ibrahim, memberkati keturunan Ibrahim dan pengikut-pengikutnya.

Perjalanan sunatullah, Bani Israil ummat yang tadinya dikatakan kekasih Allah yang penuh “Berkat-Rahmat” Allah, kemudian mereka lupa dan meninggalkan janji mereka kepada Allah. Mereka bersekutu (berzina) dengan kerajaan bangsa-bangsa, sehingga terjadilah kemudian murka Allah terhadap Bani Israil, disebabkan Israil meninggalkan Allah, berzina dengan bangsa-bangsa. Allah meng-azab Bani Israil karena mereka melanggar perjanjian dengan Allah.

Allah membangkitkan sebuah ummat di atas dasar perjanjian antara ummat itu dengan Allah. Apabila tidak ada perjanjian maka tidak akan ada hubungan dengan Allah.

Ada 10 perjanjian pokok (ten comandmant) antara Bani Israil dibawah komando Musa kepada Allah. Pada ten comandmant ini terdapat dua sasaran utama, mengarah kepada Allah dan mengarah kepada manusia. Kehinaan akan ditimpakan kepada orang-orang Israil dimanapun mereka berada, kecuali jika mereka berpegang teguh dengan perjanjian mereka kepada Allah dan kepada manusia.

Musa mengatakan, Bani Israil akan dihadapkan dengan dua cobaan, yaitu “Kutuk dan Berkat”. Mereka akan diberkati, selama mereka konsisten dengan perjanjian mereka kepada Allah dan mereka akan dilaknat, dikutuk, menjadi hina-dina tatkala mereka melanggar perjanjian dengan Allah. Maka dikatakan juga mereka dikutuk menjadi monyet-monyet, tatkala mereka melanggar hari Sabath.

Kemudian pada waktu zaman Zedikia, raja terakhir dari Yahudi, tatkala Bani Israil kembali berada di bawah menjadi ummat terkutuk, muncullah Nabi-Nabi bani Israil bernubuah. Semua Nabi-Nabi Bani Israil yang disebutkan pada Taurat bernubuah tentang akan datangnya sang-Mesias.

Bahkan dari zaman Musa Yesus sudah dinubuahkan oleh Musa, yaitu: “tentang seorang Nabi dari kalangan kamu sendiri, yang seperti aku ketika dibangkitkan”. Inilah hubungan antara Yesus dengan Musa dan Abraham.

Yesus adalah seorang Mesias. Visi Yesus berbicara penegakan kembali Yerusalem, bangkitnya kembali Kerajaan Allah. Kalau Yesus seorang Mesias, berarti Yesus adalah seorang juru-selamat; Orang yang menyelamatkan Bani Israil yang sedang terkutuk, yang sedang di murkai oleh Allah, kemudian dibebaskan kembali oleh Mesias sang pembebas dari keterkutukan mereka. Penyelamatan Yesus terhadap Bani Israil dari keterkutukan mereka adalah pembebasan Yerusalem dari penjajahan bangsa-bangsa; Tegaknya kembali Kerajaan Allah, Yerusalem ke-2.

Yesus berkata: “Sebelum diantara orang-orang yang hadir disini lenyap, kamu akan menyaksikan Kerajaan Allah akan ditegakkan dan kamu akan menjadi hakim dari dua belas Bani Israil ”. Berarti, kerajaan Yesus itu bukanlah kerajaan-rohani, juga bukan kerajaan utopia. tetapi yang dimaksud disini adalah Yerusalem, Kerajaan Allah di bumi.

Seluruh dunia hari ini, baik dari sayap Ismail maupun dari sayap Israil, tidak mampu menjelaskan, apakah Yesus itu seorang Nabi dan Rasul yang gagal ataukah dia seorang Nabi dan Rasul yang berhasil melakukan tugas kerasulannya. Sebab, semua paham-paham agama yang ada memfigurkan Yesus mati di Salib atau Yesus di Salib tidak mati, tetapi naik kelangit. Kalau islamisme mengatakan Yesus tidak disalib, tidak mati, tetapi naik kelangit. Jadi Sinagog, Gereja maupun Masjid sama-sama mengatakan Yesus naik kelangit.

Gereja mengatakan Yesus dihidupkan kembali setelah melalui proses kematian ditiang salib, maka Islamisme mengatakan Yesus tidak disalib. Tetapi kedua-duanya mengatakan Yesus naik kelangit dan duduk disisi Allah dilangit. Artinya, semua pandangan ini hendak mengatakan bahwa Yerusalem ke-2 itu tidak ada. Demikianlah pandangan semua agama di dunia hari ini.

Mengenal Allah Sebagai TUAN bukan TUHAN

Mengenal Allah adalah jalan utama menuju keselamatan sacara rasional. Inilah cara mengabdi yang benar, yaitu kenali dulu Allah. Bagimana mungkin kita dapat mengabdi kepada sesuatu yang tidak kita kenal? Bagaimana mungkin seorang hamba dapat mengabdi kepada tuannya kalau dia tidak mengetahui karakter atau sifat tuannya, tidak mengenali apa yang disenangi dan dibenci oleh tuannya. Bagaimana mungkin seorang hamba akan diterima pengabdiannya oleh tuan yang dia tidak kenal?

Seorang budak yang mengabdi kepada tuan yang tidak dikenalnya, maka seluruh perbuatannya pasti akan ditolak dan pasti akan bertentangan dengan kehendak tuannya. Sebab pemikiran seorang budak tidak akan sama dengan pemikiran seorang tuan, ilmu seorang budak tidak akan sama dengan ilmu seorang tuan, demikian pula selera budak tidak akan sama dengan selera seorang tuan. Tatkala seorang budak mengabdi berdasarkan pikiran dan ukuran-ukuran pribadinya, maka pasti seluruh pengabdiannya akan ditolak, dan dia akan terkena murka dari tuannya.

Secara rasional dalam kehidupan sehari hari pasti demikian, dan tidak ada orang yang akan menyanggah pendapat ini. Ini adalah jalan utama agar pengabdiannya bisa diterima oleh tuannya. Maka mengertilah kita mengapa yang pertama-tama diajarkan oleh Allah kepada para nabi dan rasul Nya adalah pengenalan tentang sifat-sifat Nya, sebagai langkah awal dalam melaksanakan pangabdiannya itu.

Manusia tidak bisa hidup dengan dua tuan. Kalau mengabdi kepada dua tuan, maka tatkala kita mengabdi kepada salah satu tuan, maka tuan yang lain akan menjadi cemburu, iri-hati. Ini merupakan esensi iman yang tidak bisa ditawar-tawar, bahwa manusia tidak bisa mengabdi kepada dua tuan.

Sengaja kita menggunakan kata-kata “tuan” karena asal kata “tuhan” sebenarnya berasal dari kata-kata “tuan” (bahasa Melayu). Kata-kata “tuhan” dimunculkan pada tahun 1668 M, oleh salah seorang pendeta Belanda, ketika mereka menjajah bumi nusantara. Kata-kata “tuhan” mereka adopsi dari kata-kata “tuan” dari bahasa Melayu yang memiliki makna “sesuatu yang ditaati, sesuatu yang dihormati”. Kata “tuan” itu penuh dengan muatan spirit (energi). Sedangkan kata-kata “tuhan” tidak memiliki makna spirit (ruh) pengabdian.

Kita lihat sejarah Bani Isr ael contohnya. Bani Isr ail adalah bangsa budak, tatkala mereka mengetahui akan dirinya, maka dia tidak mau diperbudak, karena esensinya dia adalah budak Allah, tidak boleh ada yang berhak menjadi tuan dalam dirinya kecuali Allah. Tatkala Bani Israel, mengetahui dirinya bahwa esensinya dia adalah budak Allah, yang di dalam kitab Allah tertulis, kata Allah: “Aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali untuk menjadi budak Aku”, sesungguhnya mereka (bani Israel) diciptakan untuk mengabdi hanya kepada Allah, bukan kepada Fir’aun yang mengaku diri sebagai tuan. Maka terjadilah sebuah kebangkitan. Ruh All ah masuk di dalam diri bani Israel. Bani Isr ael bangkit untuk melepaskan diri dari perbudakan. Apa yang dimaksud dengan membangkitkan? yakni dari tidak sadar, menjadi sadar. Dari orang yang tidak tahu harga dirinya, menjadi tahu harga dirinya. Dari orang yang tadinya mati, sekarang dia bangkit hidup. Tentu saja setelah ditiupkan ruh kepadanya. Maka Bani Isr ael bangkit dari kematian. Dan sejarah mencatat, bani Israel yang tadinya menjadi bangsa budak, kemudian dia sadar dan bangkit dari perbudakan, dan Allah telah menuntunnya, maka Bani Israel diangkat oleh Allah, ditinggikan derajatnya, dimuliakan di antara bangsa-bangsa yang lain, menjadi bangsa yang memimpin dunia, menjadi wasit daripada dunia. Itulah nikmat yang pernah Allah berikan kepada Bani Israel, karena bani Israel mau beriman kepada Allah. Apa yang terjadi pada sejarah bani Israel saat itu akan terjadi pula pada dunia hari ini , karena rumusannya sejarah akan mengulang.

Banyak orang yang mengaku iman kepada Allah. Bahkan Abu Jahal (sebutan bagi pemimpin bangsa jahiliyah) adalah orang yang sangat kental imannya kepada Allah, sangat dominan dengan perkataan-perkataan agamis dan ritus-ritus agamis di Ka’bah. Tetapi dia adalah orang yang tidak percaya, bahwa mengabdi kepada Allah harus taat dan tunduk patuh kepada aturan atau hukum Allah. Ketika Muhammad datang dengan membawa sistem kehidupan langit/Allah, maka dia menolaknya.

Abu Jahal adalah orang yang yakin dan percaya bahwa alam-semesta dan manusia adalah ciptaan Allah, adalah Kerajaan-Allah. Tetapi disebabkan Muhammad Rasul Allah dia tidak mau mengimaninya, maka karena itu dia dikatakan orang yang kafir kepada Allah dan Rasul-Nya. Artinya, percaya kepada Allah saja bukanlah berarti telah menjadi orang beriman. Setiap orang bisa saja mengatakan “my-god” (tuhanku). Itu bisa saja tuhan pribadi, tidak menjadi jaminan bahwa itu adalah Tu(h)an yang sama seperti “Tu(h)an-nya” Abraham. Orang boleh saja menyebut nama Allah, tetapi Allah yang menurut gambaran pribadi mereka.

Hari ini, Ideologi Tuan Allah Abraham, tidak ada pada kaum Nashrani, tidak ada pada kaum Yahudi dan tidak ada pada kaum Islamisme. Mereka semua datang berbicara di depan manusia pada hari ini tidak lain atas nama partai-partai, pemimpin partai-partai, golongan, dan bukan mengatasnamakan Allah Tuan Semesta Alam; Allah Abraham. Tidak ada bangsa-bangsa di dunia hari ini yang berbicara atas nama Allah Tuan Semesta Alam; Allah Abraham, karena itu adalah sebuah ideologi. Mereka berbicara hanya atas nama negara mereka masing-masing, ideologi mereka masing-masing, partai masing-masing.

Bekas imperium Kerajaan Yerusalem pertama telah musnah. Dan bekas imperium Yerusalem kedua pun juga telah musnah. Demikian juga halnya dengan bekas imperium Darussalam, juga telah musnah. Tidak ada satu pun bangsa-bangsa dunia yang dahulu mendukung Kerajaan Allah yang ditegakkan oleh Muhammad, Yesus, dan Musa, hari ini tampil Atas Nama Allah Tuan Semesta Alam, Allah Abraham.

Kenapa dunia hari ini tidak ada yang tampil atas nama Allah Tuan Semesta Alam; Allah Abraham? Sebab mereka mengabdi kepada Tuan yang lain selain Tuan semesta alam. Sebab mereka telah menduakan Tuan Semesta Alam. Mereka menyembah secara ritus kepada Allah dengan cara masing-masing tetapi mereka mengabdi kepada Tuan lain selain Allah, hukum dan aturan yang mereka taati jelas bukan kehendak Allah. Itulah sebabnya mereka menduakan Allah. Sehingga ideologi atau falsafah hidup mereka bukan Allah semesta alam, tetapi Tuan berhala yang menjadi pengatur mereka di bumi.

Ketika Manusia Menciptakan Ideologi Tandingan Tu(h)an

Ada tiga unsur penting, yaitu Brainware, Software, dan Hardware . Allah dalam hal ini bertindak sebagai brainware, yaitu unsur yang memiliki keinginan atau kehendak. Ketika keinginan atau kehendak itu ingin dilaksanakan maka Ia membutuhkan alat atau hardware . Yang menjadi persoalan adalah keinginan atau kehendak brainware tidak dipahami oleh hardware , hal ini karena segala keterbatasan-keterbatasan yang dimiliki oleh hardware. Untuk itu diperlukan unsur ketiga yang dapat menjembatani kesenjangan komunikasi tersebut. Disinilah berfungsi apa yang disebut software . Pada hakekatnya software adalah sebuah media untuk menerjemahkan keinginan brainware kedalam bahasa yang dimengerti oleh hardware .

Allah bertindak sebagai perancang system alam semesta, sehingga seluruh komponen sistem termasuk manusia harus tunduk kepada kehendak Nya. Agar hubungan antara brainware dan hardware ini berjalan maka dibutuhkanlah software sebagai penghubung. Jadi kata kuncinya adalah hubungan, ketika koneksi terjadi maka sistem dikatakan berjalan atau hidup. Jadi ketika software Allah tidak bekerja atau tidak berjalan pada manusia, maka manusia tadi dikatakan terputus. Ketika manusia terputus dari kehendak Allah maka segala motivasi hidupnya akan diarahkan kepada kebutuhan fisik atau nafsunya saja. Akal Fikiran sebagai media yang seharusnya digunakan untuk berhubungan dengan kehendak Allah, disandera oleh keinginan jasad, sehingga manusia menjadi sebuah hardware yang memberontak kepada brainware . Kesadarannya dipenuhi oleh virus-virus atau program-program lain selain dari program Allah yang semestinya meng-komando keseluruhan kesadaran manusia. Kondisi ini yang sebut dengan kematian sistem. Kematian sistem berbeda dengan kematian fisik. Kalau kematian fisik adalah peristiwa berhentinya kegiatan faal pada sistem tubuh manusia. Sedangkan kematian sistem adalah peristiwa terputusnya hubungan komando dari pencipta dan yang diciptakan sehingga mengakibatkan terjadinya disintegrasi terhadap sub-sub sistem.

Kondisi ini disebut kondisi kegelapan, dimana dalam kondisi ini manusia berlomba-lomba untuk menjadi Tuhan, ia akan berusaha untuk menguasai manusia-manusia lainnya, dengan cara bertindak seperti Tuhan, ia akan menciptakan software-software untuk menandingi software buatan Tuhan. Software buatan manusia yang dimaksud disini adalah ideologi – ideologi yang diciptakan manusia yang berusaha untuk mempengaruhi manusia dengan iming-iming bahwa kelak mereka akan mendapatkan kehidupan yang lebih baik, yang adil, makmur, berdasarkan ideologi bangsanya masing-masing. Semua ideologi buatan manusia selalu menawarkan kehidupan yang lebih baik yang dipercaya oleh orang-orang yang berhasil dipengaruhinya, kemudian merekapun berusaha untuk menyebarkan pahamnya tersebut kepada orang lain, sehingga mereka berhasil untuk mempengaruhi orang sebanyak mungkin sehingga otomatis wilayahnyapun menjadi meluas dan mereka bisa menguasai sumber daya alam lebih luas lagi.

Wajar saja kalau kondisi ke gelap an seperti itu yang ada hanya lah persangkaan. Ada orang mengatakan begini jalan keluarnya, kemudian sekelompok orang akan mengikuti dia, yang lain mengatakan bukan, bukan di situ jalan keluarnya tapi di sinilah jalan keluarnya, mak a sekelompok orang akan mengikuti dia. akibatnya akan tercipta kelompok-kelompok. Tetap saja mereka berada pada kegelapan.

Karena ideologi buatan manusia yang disindir dalam kitab Allah sebagai berhala bukan hanya satu, tetapi banyak, maka terjadilah benturan dan gesekan-gesekan diantara ideologi-ideologi tersebut yang pada akhirnya akan terjadi peperangan yang terus menerus berkelanjutan yang membawa korban kesengsaraan pada umat manusia dan kerusakan alam yang hebat.

Hari ini kita bisa melihat, bangsa dengan bengsa saling berperang. Dalam perang dunia pertama 17 juta manusia telah mati, sedangkan dalam perang dunia kedua 20 juta manusia telah mati. Kemudian pada hari ini akan terjadi lagi, dunia digegerkan masalah nuklir dan terorisme. Berapa banyak lagi manusia akan terbunuh? Kalau tidak adanya pertolongan Allah, artinya tidak adanya ummat yang bertindak sebagai wasit, maka manusia bisa punah, bangsa terbunuh dengan bangsa. Yang paling berbahaya adalah kotak-kotak etnis, dan kotak-kotak ideologi, orang yang tidak seideologi dengan mereka adalah musuh yang harus dibunuh habis, contohnya komunis, liberalis. Kita bisa melihat kotak nasionalis , bangsa Rusia menganggap bahwa orang yang bukan bangsa Rusia adalah binatang, sama pula dengan bangsa Inggris menganggap bahwa orang yang bukan bangsa Inggris boleh diperlakukan apa saja, karena dianggap binatang, demikian juga bangsa Indonesia menganggap bahwa orang yang bukan bangsa Indonesia itu sama dengan musuh bagi faham kebangsaan. Kita lihat tiap hari ada usaha untuk menghancurkan lintas banga-bangsa, dan hanya konsep langitlah yang dapat mengatasinya.

Lebih spesifik kita lihat, bentuk bencana yang terjadi adalah terjadinya chaos atau kekacauan atau kehancuran tatanan kehidupan dalam suatu komunitas bangsa atau komunitas internasional. Bentuk kehidupan jahanam itu adalah rusaknya moral manusia secara merata. Dari sinilah kesengsaraan manusia itu dimulai. Perang antar suku dan bangsa terjadi, pembunuhan merajalela, membunuh sudah tidak lagi dianggap sebagai suatu tindak kejahatan besar, tetapi sudah berubah menjadi suatu keharusan yang akan mendapat bintang bagi pelakunya. Mencuri, merampok sudah menjadi tradisi, pemerkosaan sudah menjadi hal yang biasa. Kehancuran di bidang ekonomi yang menyengsarakan orang banyak sudah merupakan ilmu dalam bisnis, kemiskinan sudah menjadi tradisi atau lebih ironisnya lagi manjadi asesoris bangsa, pelacuran dengan menjual kehormatan sudah dianggap sebagai profesi dan lambang selebritis, para penguasa yang seharusnya menjadi penggembala rakyat berubah menjadi pemburu yang sadis, perampok harta rakyat, dan pembunuh hak asasi manusia dan lain sebagainya. Itulah bentuk azab yang menyengsarakan hidup dan kehidupan manusia, disebabkan manusia mengingkari dan mendustakan ayat-ayat Allah .

Hanya kembali kepada Allah, semua persoalan akan selesai. Kembali kepada Allah dalam artian mengganti software buatan manusia dengan software buatan Allah, maka manusia akan kembali fitrah dan hidup dengan damai dan sejahtera.