Kehidupan manusia telah terbagi menjadi dua bagian, yakni bagian untuk urusan Tu(h)an (hanya sebatas spiritual simbolik) dan bagian untuk urusan dunia. Setiap orang menganggap bahwa ada permusuhan antara “agama” dengan “dunia”. Apabila ada seorang yang ingin berhubungan dengan salah satu dari keduanya, dia harus memutuskan hubungan dengan yang lain. Tidaklah mungkin seseorang mengendarai dua kapal yang berbeda dalam waktu yang sama. Tidaklah mungkin pula seseorang mengendarai dua kuda dalam waktu bersamaan, pastilah dia akan memilih salah satu kuda dan meninggalkan yang lainnya.
Pandangan mereka, tidaklah mungkin ada jalan untuk mencukupi ekonomi atau kebutuhan hidup kecuali harus melupakan Tu(h)annya dan atau menentang pencipta langit dan bumi. Tidak akan abadi suatu pemerintahan atau kekuasaan kecuali dengan mengabaikan ajaran dan hukum Allah, juga harus melepaskan ketakutan kepada Allah. Sebaliknya, tidak ada tempat untuk “beragama” kecuali dengan memutuskan hubungan dari dunia dan isinya. Itulah pandangan umat hari ini yang memisahkan Allah dari dunia. Dan akhirnya Allah hanya sebagai urusan bergantung (ritualistik) dari setiap permasalahan manusia, sedangkan urusan hidup dan kehidupannya diatur oleh diri mereka sendiri dalam tatanan kehidupan yang lepas sama sekali dengan penciptya-Nya.
Dikarenakan, setiap pemikiran keagamaan tidak memberikan kebebasan untuk bersenang-senang dengan apa yang boleh, kebangkitan dan kemuliaan, ilmu dan peradaban, hikmah dan kekuatan. Dengan demikian pandangan seperti itu tidak berakibat baik untuk manusia pada umumnya. Karena demikian itu bertentangan dengan fitrah yang benar, dan dapat merusak tabiat alami yang bersih dalam diri manusia.
Sebagai buah dari pertentangan itu telah menghasilkan sejumlah besar para pemilik kepandaian, kecerdasan, dan kemampuan ilmiah, serta pemikir peradaban, untuk mengutamakan dunia daripada “agama”, dan mereka puas dengan itu, merasa tenang padanya. Tidak ada bayangan sedikitpun untuk memasukkan ajaran Tu(h)annya ke dalam sendi-sendi kehidupan dan pemerintahannya.
Kebanyakan mereka telah meninggalkan Tu(h)annya secara umum, meskipun mereka mengakui keberadaan dan kekuasaan Allah. Mereka meninggalkan dasar-dasar keimanan dan ideologi dan mengambil yang mereka anggap baik dan selamat. Sehingga mereka memisahkan pemerintahan negaranya dengan hukum Tu(h)an dan melepaskan segala ikatannya. Oleh karena itu pemerintahan menjadi seperti seekor gajah yang marah yang terlepas dari kelompok dan ikatannya, atau bagaikan unta yang bingung yang talinya lepas.
Ini merupakan pemisahan yang terjadi antara Allah dengan dunia. Pemisahan yang terjadi antara orang yang berkecimpung dalam dunia dan spiritual telah membuka pintu permusuhan untuk menyimpang dari kehendak hukum Tu(h)an.
Maka berlanjutlah menjadi penyembahan kepada diri sendiri dan manusia lain secara tatanan dalam kehidupan berpolitik dan sosial kemasyarakatan dalam makna yang seluas-luasnya, yang lepas dari pengaruh Khalik-nya. Sehingga mereka tidak lagi mengenal siapa khalik-nya, meskipun secara umum mereka mengakui keberadaan-Nya.
Maka dengan demikian, setiap ibadah yang manusia lakukan dalam pengabdian keagamaan mereka kepada Allahnya, tetapi dalam batasan mereka memisahkan antara Allahnya dengan dunia (sekulerisme), tidak dalam rangka untuk taat kepada perintah dan hukmum-Nya, tetapi hanya sebatas melaksanakan kegiatan spiritual simbolistik atau ritualistik semata, maka sia-sialah pengabdian keagamaan mereka, meskipun itu berupa sholat, zikir, puasa, zakat, haji dsb. Karena mereka adalah orang-orang yang telah memper-sekutu-kan Allahnya dan dalam bahasa kitab mereka disebut sebagai orang-orang yang “musyrik (dalam Al-Qur’an) dan atau munafik (dalam bahasa Injil)”.
Perhatikan Firman Allah dalam Surat Al-An’aam ayat 136 : “Dan mereka memperuntukkan bagi Allah satu bagian dari tanaman dan ternak yang telah diciptakan Allah, lalu mereka berkata sesuai dengan persangkaan mereka: "Ini untuk Allah dan ini untuk berhala-berhala kami". Maka saji-sajian yang diperuntukkan bagi berhala-berhala mereka tidak sampai kepada Allah; dan saji-sajian yang diperuntukkan bagi Allah, maka sajian itu sampai kepada berhala-berhala mereka. Amat buruklah ketetapan mereka itu.
Perhatikan pula kitab Matius 15:7-9 : “Hai orang-orang munafik! Benarlah nubuat Yesaya tentang kamu: Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku. Percuma mereka beribadah kepada-Ku, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia.”
Pandangan umat pada hari ini mengatakan bahwa mengabdi boleh kepada penguasa siapa saja atau kepada bangsa dan negara, sementara itu urusan bergantung harus sama Allah dengan melakukan ritual-ritual yang ada. Itu adalah pemahaman yang salah. Allah tidak mau diduakan, Dia adalah tuan bagi seluruh alam semesta dan seluruh manusia, maka Allah sangat marah ketika manusia mengambil tuan yang lain selain Allah dalam urusan hidup dan kehidupannya. Itulah yang dikatakan oleh Allah, umat yang telah melakukan perbuatan “zina”. Allah dibesarkan di mesjid-mesjid, di gereja-gereja, di kanesah-kanesah, tetapi di dalam hidupnya dia tunduk kepada hukum / aturan selain Allah. Itu namanya bangsa yang sudah berzina, yakni zina ideologi.
Pada hari ini mereka (kebanyakan manusia) mengatakan setelah Muhammad, Allah tidak boleh turut campur ke bumi, ini sudah menjadi urusan manusia, tidak akan ada lagi wahyu, tidak akan ada lagi petunjuk dan pedoman hidup pada manusia, tinggal nunggu kehancuran alam semesta saja. Kalau ada kejahatan pada hari ini, biarkanlah kejahatan itu berjalan menurut urusan manusia itu sendiri, biarkanlah manusia dengan manusia yang menyelesaikan urusannya, biarkanlah manusia bikin partai-partai, kekuatan-kekuatan yang tidak berdasar wahyu Allah, kitab Allah tidak dijadikannya sebagai petunjuk tetapi dilemparkannya ke belakang, dan Allah “tidak diperbolehkan” untuk ikut campur dalam menyelesaikan urusan dan permasalahan manusia dunia hari ini, karena Allah bagi mereka urusannya adalah “kampung akhirat” dan “tempat bergantung”.
Umumnya, mereka (manusia dunia hari ini ini) mengakui keberadaan dan kekuasaan Allah, namun “hati” mereka penuh dengan kesombongan, ambisi, dan keegoisan. Mereka yang dibicarakan di sini adalah orang-orang yang sungguh-sungguh percaya kepada Allah namun “hati”nya telah menjadi lalai dari mengingat-Nya dari perintah dan kehendak-Nya. Mereka menganggap dirinya sebagai suatu keberadaan yang terpisah dan terlepas dari Allah. Memang, sebagaimana yang disebutkan ayat tersebut, ia tidak mengingkari keberadaan Allah, namun menganggap dirinya karena keutamaannya berhak mendapatkan kekuasaan, kemuliaan dan kekayaan yang dilimpahkan Allah atasnya. Oh, celakalah manusia!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar