Jumat, 03 Juni 2011

Suksesi Kekuasaan Peradaban Dunia

Hukum kehidupan menegaskan, bahwa segala sesuatu memiliki ajal (batas waktu) tertentu yang tak dapat ditunda atau mendahului masa yang telah ditetapkan atasnya. Hukum ajal ini seringkali hanya disandarkan kepada ajal manusia saja, tanpa pernah menyadari bahwa hukum ajal pun berlaku bagi setiap bangsa atau peradaban. Logikanya jika seorang pernah lahir, maka dia pun harus menghadapi ajal kematiannya. Sama halnya dengan umat (bangsa) atau peradaban, dia pernah lahir pada hari jadinya (hari proklamasi), maka suatu saat ajal (kehancuran)-nya pun akan tiba. Tak ada kekuasaan bangsa dan peradaban yang abadi.

Mengenal hukum ajal suatu umat (bangsa) ini Allah menggariskannya dalam surat ke-7 ayat ke-34 : “Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu, maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat pula memajukannya.”

Baik umat Allah maupun umat selain Allah (umat bangsa-bangsa), menurut hukum kehidupan mereka mempunyai ajal. Bukti bahwa tiap-tiap umat itu mempunyai ajal telah banyak sekali dijelaskan di dalam kitab-kitab Allah baik Taurat, Injil, maupun Al-Quran. Di dalam kitab Allah banyak sekali dikisahkan tentang bangsa-bangsa besar yang tadinya makmur dan kuat kemudian hancur, tinggal cerita dan menjadi catatan sejarah, dimana bekas-bekas pusat kekuasaan mereka hanya tinggal puing-puingnya saja. Data-data sejarah yang sering diperlihatkan oleh Allah kepada manusia itu agar diketahui dan dijadikan pelajaran baginya. Dengan melihat data-data sejarah tersebut maka tidak ada alasan bagi seseorang untuk tidak mengimani tentang umur atau ajal suatu umat.

Silakan saudara perhatikan bekas-bekas dari pada sebuah kekuasaan besar semodel Fir'aun, Asyur, Babilonia, Kista, Macedonia, Medio-Persia, Romawi, dan lain sebagainya, yang sekarang ini sudah tidak ada penghuninya lagi, hanya tinggal monument sejarah. Begitu pula bekas imperium Yerusalem pertama, bekas imperium yerusalem kedua, serta bekas imperium Darussalam, seluruhnya juga tinggal catatan sejarah. Seharusnya ini merupakan data fisik yang dijadikan oleh Allah sebagai fakta ilmiah agar manusia memperhatikan tentang peringatan Allah akan perjalanan kehidupan yang bersifat pasti, yang berulang dan akan terjadi kembali manakala kondisi kehidupan manusia ini terkondisional seperti kondisi yang dialami oleh bangsa-bangsa besar tersebut, maka Allah akan bertindak kembali. Dan sekaligus ini menunjukkan bahwa segala sesuatu itu ada masanya.

Silakan perhatikan surat ke-30 ayat ke-9 : “Dan apakah mereka tidak mengadakan perjalanan di muka bumi dan memperhatikan bagaimana akibat (yang diderita) oleh orang-orang sebelum mereka? orang-orang itu adalah lebih kuat dari mereka (sendiri) dan telah mengolah bumi serta memakmurkannya lebih banyak dari apa yang telah mereka makmurkan.”

Demikian pula ditegaskan pada surat ke-29 ayat ke-53 : “Dan mereka meminta kepadamu supaya segera diturunkan azab. Sekiranya bukan karena waktu yang telah ditetapkan, benar-benar telah datang azab kepada mereka, dan azab itu benar-benar akan datang kepada mereka dengan tiba-tiba, sedang mereka tidak menyadarinya.”

Perhatikan dalam Pengkhotbah 3 ayat 1-8 : “Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apa pun di bawah langit ada waktunya. Ada waktu untuk lahir, ada waktu untuk meninggal, ada waktu untuk menanam, ada waktu untuk mencabut yang ditanam, ada waktu untuk membunuh, ada waktu untuk menyembuhkan, ada waktu untuk merombak, ada waktu untuk membangun, ada waktu untuk menangis, ada waktu untuk tertawa, ada waktu untuk meratap, ada waktu untuk menari, ada waktu untuk membuang batu, ada waktu untuk mengumpulkan batu, ada waktu untuk memeluk, ada waktu untuk menahan diri dari memeluk, ada waktu untuk mencari, ada waktu untuk membiarkan rugi, ada waktu untuk menyimpan, ada waktu untuk membuang, ada waktu untuk merobek, ada waktu untuk menjahit, ada waktu untuk berdiam diri, ada waktu untuk berbicara, ada waktu untuk mengasihi, ada waktu untuk membenci, ada waktu untuk perang, ada waktu untuk damai.”

Seperti cerita di dalam kitab Allah tentang orang yang melaui suatu negeri, dimana dia melihat sebuah kota yang sudah runtuh temboknya. Mungkinkah kota ini bisa dibangun kembali? Yang diperumpamakan seperti menghidupkan kembali keledainya yang sudah mati, yang tinggal tulang-belulangnya saja. Keledai yang sudah mati itu tulang belulangnya dikumpulkan dan disusun kembali. Kemudian tulang belulangnya yang telah disusun itu dibalut dengan otot, lalu ditiupkan ruh, maka keledai itu hidup kembali. Inilah sisa-sisa bani Israel yang masih beriman, mereka dikumpulkan kembali satu per satu sebagai domba-domba Allah yang hilang dengan diutusnya Yesus untuk memulihkan kembali Yerusalem sehingga Yerusalem bangkit kembali menjadi kota keadilan Allah seperti yang pernah dibangun oleh Musa di kala pertama.

Kesalahan orang yang fatal adalah ketika Yesus bernubuat tentang Bait Allah yaitu Yerusalem yang dibangunnya itu suatu saat akan hancur kembali, mereka tidak mau menerima kenyataan itu, bahwa sebenarnya Yerusalem kedua sudah bangkit dan juga sudah hancur kembali. Tetapi mereka menolak kenyataan ini. Sungguh berat bagi bani Israel untuk mengakui bahwa Bait Allah yakni Yerusalem telah kembali menjadi abu dan para pemimpin bani Israel sudah tidak lagi dipercaya oleh Allah. Sehingga Allah tidak akan lagi memulihkan Yerusalem melalui tangan-tangan mereka.

Dari sinilah mereka merekayasa bahwa Yerusalem belum dipulihkan. Nanti di akhir zaman barulah Yesus turun dari langit bersama-sama dengan para malaikat Allah untuk mengembalikan Yerusalem. Seolah-olah apa yang dibangun oleh Yesus itu tidak akan mati, merupakan kerajaan yang abadi, kekuasaan yang tidak akan punah. Tetapi kekuasaan dalam arti apa? Kalau kita berbicara Yerusalem tentu saja yang dimaksud adalah Yerusalem sebagai ibukota dari suatu bangsa yang menguasai dunia di mana bangsa-bangsa belajar ke gunung sion (Yerusalem) dan tunduk kepada kerajaan Allah yang dipimpin oleh kedua belas suku bani Israel.

Mereka tidak paham apa yang dimaksud denga akhir zaman . Yang disebut akhir zaman adalah berakhirnya tatanan dunia lama dan terbentuknya tatanan dunia baru. Maka sesungguhnya yang dimaksud Yesus dengan “akhir zaman” adalah akhir dari pada zaman kekuasaan Herodes yang akan berganti dengan zaman baru, yaitu zaman tegaknya kerajaan Allah dengan Yerusalem sebagai ibukotanya di mana Yesus duduk sebagai Raja dan para pengikut setianya duduk sebagai Hakim bagi kedua belas suku Israel. Dengan demikian kejadian akhir zaman (eskatologi) sudah sering kali terjadi pada setiap saat suksesi pergantian kekuasaan peradaban dunia.

Karena hukum suksesi pergantian kekuasaan peradaban dunia berlaku sepanjang masa, maka pada zaman atau periodesasi Muhammad, Yerusalem sudah tidak ada lagi, sudah dihancurkan oleh Romawi, berganti dengan kekuasaan peradaban bangsa-bangsa. Jadi disini kita bisa melihat bahwa Romawi berkuasa di bumi dua kali, yakni pada saat sebelum tegaknya “Yerusalem kedua” yang dibangkitkan oleh oleh Yesus, dan setelah runtuhnya “Yerusalem kedua” tersebut. Itu kenapa Muhammad diutus, jadi ada hubungan misi dengan Yesus, yakni dalam rangka menegakkan kembali kerajaan Allah yang telah runtuh yang telah dibangun sebelumnya oleh Yesus. Kebenaran itu tidak bisa didustakan, manusia harus berpegang kepada kebenaran bukan kepada kepercayaan. Boleh saja kita berdasarkan kepercayaan, tetapi kepercayaan yang berdasarkan kebenaran.

Dengan datangnya Muhammad untuk membangkitkan kembali kerajaan Allah, maka dunia mencatat bahwa kerajaan Allah bangkit di zaman Muhammad sekian abad. Setelah generasi Muhammad berkuasa sekian abad, tibalah saat di mana umat Muhammad kembali terpuruk akibat kezalimannya dikarenakan melanggar perjanjian abadi. Suksesi kekuasaan peradaban dunia ini diawali dengan kehancuran kerajaan Allah yang berpusat di Bashrah oleh Hulagu Khan (1258 M). Hingga kini, sudah sekitar 7 abad lamanya dunia dikuasai oleh kekuasaan peradaban bangsa-bangsa dan tentu saja akan diakhiri oleh kekuasaan peradaban Allah saat ajalnya tiba nanti. Hari ini kita sudah melihat tanda-tandanya bahwa suksesi kekuasaan peradaban dunia sudah dekat, sudah diambang pintu.

Perhatikan dalam Surat ke-3 ayat ke-26 : “Katakanlah: "Wahai Tu(h)an Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan siapa yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan siapa yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu

Tidak ada komentar: