Jumat, 03 Juni 2011

Warta Utama Muhammad Sebagai Sang Mesias

Gereja menolak bahwa Muhammad adalah penggenapan dari nubuah Yesus tentang “Sang-Penghibur”. Gereja menolak Muhammad sebagai kelanjutan dari perjalanan misi Yesus. Mereka mengatakan Muhammad kaum “ummi”, bukan Bani Israil. Bani Israil menolak Muhammad. Bagi mereka tidak mungkin Tuhan Allah Abraham mengangkat seorang Mesias dari kalangan bukan Bani Israil. Itu sesuatu yang tidak mungkin bagi mereka. Padahal Allah pernah berjanji kepada Siti-Hagar: “Bahwa dari garis Siti-Hagar pun Allah akan menjadikan keturunannya menjadi bangsa besar, menjadi imam bagi manusia”. Nubuah tentang keturunan Ismail akan menjadi bangsa yang besar.

Muhammad bukanlah membawa agama orang Arab, bukan membawa ajaran agama baru. Muhammad menyeru ahlul-kitab, “hai ahlul-kitab, marilah kita kembali kepada ajaran yang sama (satu), tidak ada perbedaan diantara kita; Jangan persekutukan Allah ”.

Ketidakpahaman orang-orang yang mengaku pengikut Muhammad hari ini, mereka tidak melihat risalah ini menyambung kepada Musa, menyambung kepada Yesus, menyambung kepada Nabi-Nabi Bani Israil. Mereka mengatakan bahwa Muhammad adalah Nabi baru bangsa Arab, tidak ada hubungannya dengan Musa, tidak ada hubungannya dengan Yesus, tidak ada hubungannya dengan Bani Israil. Muhammad itu membawa ajaran agama baru yang dia dapatkan dari Tuhan, tidak ada hubungan dengan kitab-kitab (Taurat, Injil) sebelumnya, kata mereka.

Kalau kita perhatikan, sesuai dengan fakta sejarah, Muhammad merupakan orang yang paling rajin berkunjung ke Palestina dari usia 25 tahun hingga 35 tahun. Bahkan tatkala dia masih usia kanak-kanak Muhammad diajak pamannya berdagang ke negeri Syam di Palestina. Di Palestina inilah Muhammad melihat dan membaca pola hidup orang-orang Yahudi dan Nashrani. Al-Kitab bukanlah sesuatu bacaan yang asing di negeri Mekah pada zaman Muhammad. Sebab Waraqah bin Naufal, paman Khadijah adalah seorang pendeta Nashrani yang menafsirkan kitab Injil kedalam bahasa Arab. Waraqah bin Naufal juga pernah bertindak sebagai wali yang menikahkan Muhammad dengan Khadijah keponakannya.

Muhammad merupakan seorang laki-laki cerdas dan tidaklah mustahil baginya apabila dia mengetahui, memahami kitab-kitab Taurat dan Injil. Dapat dipastikan Muhammad adalah seorang laki-laki yang sangat memahami kitab-kitab Taurat dan Injil. Sebab di Mekah ketika itu Taurat dan Injil merupakan bacaan yang popular ditengah-tengah masyarakatnya.

Tetapi masalahnya, tidak ada dasar bagi Muhammad untuk bisa mengimani Taurat dan Injil. Dia tidak puas melihat perilaku inkonsistensi para penganut maupun para pemuka Taurat dan Injil. Pada periode itu sebelum Allah berikan petunjuk kepada Muhammad, Al-Quran mengatakan Muhammad adalah seorang laki-laki yang sesat (wa wajadaka dhollan fa hadaa ). Allah berkata: “Aku jumpai engkau (Muhammad) adalah seorang yang sesat, kemudian Kami memberimu petunjuk ”, (QS. 93:7) .

Muhammad melihat perilaku manusia yang mengaku hamba Allah ketika itu, tidak sesuai dengan apa yang tertulis pada Al-Kitab. Dia bertanya-tanya, apakah ajaran yang benar itu adalah ajaran Yahudi, Nashrani atau ajaran Ismailisme-Arab? Semua pengikut ajaran itu menyebut Isme-Allah. Saat itu sangat membingungkan baginya menetapkan pilihannya. Muhammad bertanya-tanya, Yang manakah yang benar?

Barulah kemudian disebabkan saahnya telah tiba dan didasarkan kesungguhannya, sampailah Muhammad kepada tahap “petunjuk”. Allah memberikan petunjuk kepadanya, Muhammad dibimbing oleh Allah.

Kalau kita bandingkan antara Al-Quran dengan Taurat dan Injil tentang masalah cerita-cerita sejarah, banyak kita melihat perbedaannya. Tetapi tentu saja masih tetap ada banyak persamaannya. Banyak kisah yang tidak dijelaskan pada Al-Quran, tetapi penjelasannya ada pada Taurat dan Injil.

Allah berkata kepada Muhammad : “Bertanyalah kamu kepada ahlul-kitab kalau kamu tidak mengetahuinya”. Disini kita melihat, Nabi Muhammad merupakan orang yang tidak menutup diri, terutama tentang sejarah Bani Israil.

Tugas Muhammad adalah menegakkan kembali yerusalem yang pernah dibangun oleh Yesus, dalam bahasa Israel disebut Jerusalem.

Al-Quran mengatakan dalam (QS. 6:161) Katakanlah: "Sesungguhnya aku telah ditunjuki oleh Tuhanku kepada jalan yang lurus, (yaitu) system kehidupan yang benar; millah Ibrahim yang lurus; dan Ibrahim itu bukanlah termasuk orang-orang yang musyrik" .

Dalam (QS. 16:123) Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad): "Ikutilah millah Ibrahim seorang yang hanif." dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan .

Muhammad sendiri mengatakan: “Aku ini membawa Millah Abraham. Apa yang aku ajarkan kepadamu adalah apa yang tersebut di dalam shuhufnya Ibrahim, di dalam shuhufnya Musa”. Artinya, ajaran yang dibawa oleh Muhammad sama dengan ajaran yang dibawa oleh Ibrahim, sama dengan ajaran yang dibawa oleh Musa.

Bahwa yang dibawa oleh Muhammad adalah Millah Abraham dan Muhammad berhasil menegakkan kerajaan Allah, seperti Musa menegakkan Yerusalem kesatu, dan Yesus menegakkan Yerusalem kedua. Bahwa visi daripada semua Rasul Allah adalah sama dan semua Rasul itu dibimbing langsung oleh Allah.

Tidak ada komentar: