Segala puji dan kekaguman kita hanya kepada Allah, Tu(h)annya Adam, Tu(h)annya Nuh, Tu(h)annya Abraham, Tu(h)annya Ismael, Tu(h)annya Ishak, Tu(h)annya Israel, Tu(h)annya Musa, Tu(h)annya Yesus, Tu(h)annya Muhammad, serta Tu(h)annya alam semesta, Raja yang merajai kerajaan langit dan bumi, yang menciptakan, yang menghidupkan dan yang mematikan, Raja dan Penguasa yang haq untuk ditaati, Penguasa alam dan kehidupan umat manusia yang beredar dari masa ke masa, dari generasi ke generasi yang tidak pernah berubah ketetapan-Nya. Allah adalah Tu(h)an yang haq dan yang tetap, bukanlah Tu(h)an yang suka berubah-rubah prinsip penciptaan-Nya, yang suka berganti ketetapan-Nya, yang semau-mauNya, tetapi Allah yang pasti, yang tidak pernah berubah ketetapan-Nya.
Tidak ada yang lebih agung melainkan Dia Tu(h)an semesta alam, maka sudah sepantasnya kita memposisikan diri kita sebagai ‘abid/hamba/budak di hadapan-Nya. Memposisikan diri kita sebagai objek kehidupan, dan menempatkan Dia sebagai Subjek dalam kehidupan. Dengan demikian pastaskah kita mengatur diri kita sendiri??
Perhatikan dunia hari ini, banyak manusia yang melakukan persembahan-persembahan kepada Tuhan Allahnya sementara mereka mengabdi kepada Allah lain yang tidak mereka kenal. Perhatikan firman Tu(h)an semesta alam Allah Abraham yang tertuang dalam kitab suci:
“Untuk apa itu korbanmu yang banyak-banyak?" firman Tu(h)an; "Aku sudah jemu akan korban-korban bakaran berupa domba jantan dan akan lemak dari anak lembu gemukan, darah lembu jantan dan domba-domba dan kambing jantan tidak Kusukai. Apabila kamu datang untuk menghadap di hadirat-Ku, siapakah yang menuntut itu dari padamu, bahwa kamu menginjak-injak pelataran Bait Suci-Ku? Kamu telah menjadikannya sebagai sarang penyamun!! Jangan lagi membawa persembahanmu yang tidak sungguh, sebab baunya adalah kejijikan bagi-Ku. Kalau kamu merayakan bulan baru, hari raya, dan sabat atau mengadakan pertemuan-pertemuan, Aku tidak tahan melihatnya, karena perayaanmu itu penuh kejahatan. Perayaan-perayaan bulan barumu dan pertemuan-pertemuanmu yang tetap, Aku benci melihatnya, semuanya itu menjadi beban bagi-Ku. Apabila kamu menadahkan kedua tanganmu untuk berdoa, meneteskan kedua air matamu, menyibukkan mulutmu dengan ucapan untuk menyebut nama-Ku, Aku akan tetap memalingkan muka-Ku, bahkan sekalipun kamu berkali-kali berdoa, Aku tidak akan mendengarkannya, sebab tanganmu penuh dengan darah, dan mulutmu menajiskan-Ku”
Jadi bisa kita lihat, bahwa HARI INI bukan lagi persembahan-persembahan ritus yang tu(h)an Allah kehendaki, kenapa? karena persembahan yang ditujukan kepada Allah tidak bisa dilakukan di tanah yang terkutuk, di tanah yang penuh darah dan kekejian, di tanah yang tidak suci. Dikarenakan Allah adalah kudus atau suci.
Perhatikan Kitab Keluaran 8:25-27 : “Lalu Firaun memanggil Musa dan Harun serta berkata: "Pergilah, persembahkanlah korban kepada Allahmu di negeri ini." Tetapi Musa berkata: "Tidak mungkin kami berbuat demikian, sebab korban yang akan kami persembahkan kepada Tu(h)an Allah kami, adalah kekejian bagi orang Mesir. Apabila kami mempersembahkan korban yang menjadi kekejian bagi orang Mesir itu, di depan mata mereka, bukankah mereka akan melempari kami dengan batu? Kami harus pergi ke padang gurun tiga hari perjalanan jauhnya untuk mempersembahkan korban kepada Tu(h)an Allah kami, seperti yang difirmankan-Nya kepada kami."
Sebenarnya tujuan manusia melakukan persembahan untuk menenebus dosanya, untuk mendapatkan keselamatan dirinya, serta untuk memuliakan Tuhannya. Tetapi Tu(h)an tidak menghendaki persembahan mereka. Perhatikan firman berikut ini : “Engkau tidak akan bisa memuliakan Aku dengan korban sembelihanmu. Engkau juga tidak akan mengenyangkan Aku dengan lemak korban sembelihanmu itu. Dan Aku tidak memberati engkau dengan menuntut korban-korban sajian atau menyusahi engkau dengan menuntut kemenyan. Tetapi engkau telah memberati Aku dengan dosamu, dengan persundalanmu itu, engkau telah menyusahi Aku dengan kelakuanmu menyembah berhala disamping korban sajian yang engkau persembahkan kepada-Ku. Engkau tetap melakukannya sebab engkau buta dan tuli.”
Perhatikan Surat Q.S Al-An’aam ayat 136 : “Dan mereka memperuntukkan bagi Allah satu bagian dari tanaman dan ternak yang telah diciptakan Allah, lalu mereka berkata sesuai dengan persangkaan mereka: "Ini untuk Allah dan ini untuk berhala-berhala kami." Maka saji-sajian yang diperuntukkan bagi berhala-berhala mereka tidak sampai kepada Allah; dan saji-sajian yang diperuntukkan bagi Allah, maka sajian itu sampai kepada berhala-berhala mereka. Amat buruklah ketetapan mereka itu.”
Perhatikan pula firman Tu(h)an semesta alam: “Engkau melakukan banyak persembahan dengan korban sembelihan atau kemenyan dihadapanku, tetapi engkau tidak mengasihi Aku, engaku tidak mengabdi kepada-Ku, engkau tidak taat pada hukum-hukum-Ku, engkau telah memperkosa hukum-Ku dan menajiskan hal-hal yang kudus bagi-Ku, engkau tidak membedakan antara yang kudus dengan yang tidak kudus, tidak mengajarkan perbedaan yang najis dengan yang tahir, engkau pula menutup mata terhadap hari-hari Sabat-Ku. Aku telah engkau najiskan. Disamping engkau telah memperkosa hukum-Ku, engkau telah memperkosa hak-hak orang miskin dan menindasnya, tidak ada belas kasih terhadap sesama.
Perhatikan firmanku yang tertulis dalam kitab: “Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan. “Celakalah kamu hai kamu orang-orang munafik, sebab persepuluhan dari selasih, adas manis dan jintan kamu bayar, tetapi yang terpenting dalam hukum Taurat kamu abaikan, yaitu: keadilan dan belas kasihan dan kesetiaan.”
Tertulis juga dalam kitab Allah : "Cintailah Tu(h)an, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasih dan sayangilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.” Ingatlah, kamu tidak akan pernah mempunyai rasa kasih dan sayang terhadap sesama manusia manakala kamu tidak mencintai tu(h)an Allahmu sepenuh hatimu. Bagaimana kamu bisa mencintai Tu(h)an Allahmu, sementara kamu tidak mengenalnya sama sekali? Bagimana mungkin sang budak bisa mengabdi kepada tuannya, semestara sang budak tidak mengenal tuannya? Sia-sialah pengabdiannya. Mengenal tuan adalah mengenal sifat dan karakter sang tuan, mengenal kebiasaan sang tuan, mengenal apa yang tuannya benci dan apa yang tuannya sukai. Bagaimana mungkin pula kalau tidak mengerti dan memahami sejarah, bisa mengenal tuannya dengan baik, musthail! Karena sifat-sifat sang tuan sudah ditampakkan di dalam perjalanan sejarah umat manusia sejak Adam hingga hari ini. Dan satu yang menarik kalau kita amati, adalah tidak ada perubahan sifat dan karakter yang ditampakkannya.
Tidak selamanya cinta akan terus menjadi cinta. Suatu masa cinta akan bisa berubah menjadi kebencian, manakala yang semula dicintainya telah diduakannya. Seperti dalam firman-Nya yang tertuang dalam ‘ten commandments’ : “Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku. Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apa pun yang ada di langit di atas, atau yang ada di bumi di bawah, atau yang ada di dalam air di bawah bumi. Jangan sujud menyembah kepadanya atau beribadat kepadanya, sebab Aku, Tu(h)an, Allahmu, adalah Allah yang CEMBURU.
Perhatikan dalam Surat Al-Anfaal ayat 35 : “Persembahan mereka di sekitar Bait Allah itu, lain tidak hanyalah siulan dan tepukan tangan. Maka rasakanlah kemurkaan-Ku disebabkan kekafiranmu itu.
Bagimana mungkin manusia bisa beribadah kepada Allah kalau tidak ada tempatnya, bagaimana mungkin pula manusia bisa melakukan persembahan-persembahan kepada Allah kalau tidak ada wadahnya. Tempat-tempat peribadatan, sebenarnya adalah simbol dari perwujudan kerajaan Allah yang tegak di muka bumi. Segala sesuatu ada simbolnya, dan segala simbol ada maknanya. Amerika serikat mempunyai simbol patung liberty, Indonesia mempunyai simbol tugu monument nasional. Jadi kalau kerajaan Allah sudah tidak ada lagi dalam artian sudah hancur dan berganti dengan kerajaan bangsa-bangsa yang berdiri atas pilar ideologi manusia, terus apakah fungsi dari pada tempat-tempat peribadatan itu sendiri? Sehingga mengertilah kamu mengapa Tu(h)an Allah dalam kitabnya sangat membenci adanya persembahan-persembahan di bait Allah itu sendiri.
Perhatikan Kitab ratapan 2:7 : “Tuhan membuang mezbah-Nya, meninggalkan tempat kudus-Nya, menyerahkan ke dalam tangan seteru tembok puri-purinya.” Perlu difahami bahwa Kitab Ratapan adalah bani Israel meratap kepada tu(h)an Allahnya. Itu terjadi ketika kerajaan Allah yang dibangun oleh Musa sudah hancur berganti dengan kerajaan bangsa-bangsa. Pada saat itu Tu(h)an membuang Mezbah-Nya, meninggalkan tempat kudus-Nya. Sehingga mereka (Bani Israel) tidak bisa melakukan persembahan-persembahan lagi di mezbah atau di tempat-tempat kudus mereka.
Jadi kesimpulannya, selama kerajaan Allah tidak ada di muka bumi, selama itu pula manusia tidak bisa beribadat kepada Tu(h)an semesta alam. Bangun dulu kerajaan Allah, baru bisa melakukan peribadatan kepada-Nya.
Segala puji bagi tu(h)an ‘Robb’ semesta alam, Allah Abraham.
Jumat, 03 Juni 2011
Bukan Korban Persembahan Yang Diminta Tu(h)an, Tetapi.......
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar