Jumat, 03 Juni 2011

NUH lah Yang Menebus Dosa Keturunan Adam Dan Bukan Yesus !

Adam adalah seorang Rosul (utusan Allah) untuk membangkitkan kerajaan Allah di muka bumi, dan tegaklah kerajaan Allah pada waktu itu. Ketika pada saat puncak kejayaannya, mereka sudah mulai lupa diri dan meninggalkan hukum-hukum Allah dan mengubah manjadi kekuasaan yang Monarki. Kaum Adam memakan “buah khuldi” yang artinya buah yang dihasilkan oleh sistem buatan manusia atau mengubah hukum Allah menjadi hukum buatan manusia yang sifatnya monarki (pohon kekekalan yang terlaknat) sehingga Allah murka dan mengeluarkan kaum Adam dari sorga (kerajaan Allah di bumi). Maksud mengeluarkan dari sorga adalah kerajaan Allah yang dibangun Adam yang tegak ratusan tahun di bumi akhirnya runtuh, disebabkan karena ummatnya telah berbuat kerusakan kembali dengan mencintai sistem kehidupan yang selain dari pada Allah, mengubah hukum Allah dengan hukum bangsa-bangsa. Dalam istilah kitab bahwa mereka dikatakan berzina.

Setelah kaum Adam berbuat dzolim yang menyebabkan mereka diturunkan dari sorga (maksudnya diturunkan dari kepemimpinan dunia dan menjadi budak bangsa-bangsa), selama ratusan tahun mereka meratap atas kesalahannya. Itulah mereka berbuat dosa kepada Allah. Dan setelah ratusan tahun berlalu Allah pun memperhatikan dan mendengarkan ratapan anak cucu Adam. Allah akan membangkitkan mereka kembali dengan membangkitkan seorang rosul dari kalangan mereka sendiri yang berasal dari bangsa Babel yaitu yang bernama Nuh .

Allah berfirman: "Di bumi itu kamu hidup dan di bumi itu kamu mati, dan dari bumi itu (pula) kamu akan dibangkitkan. (Al-A’raaf ayat ke-25)

Setelah Lamekh hidup seratus delapan puluh dua tahun, ia memperanakkan seorang anak laki-laki, dan memberi nama Nuh kepadanya, katanya: "Anak ini akan memberi kepada kita penghiburan dalam pekerjaan kita yang penuh susah payah di tanah yang telah terkutuk oleh TUHAN." ( Kitab Kejadian 5:28-29)

Nuh diutus di tanah yang terkutuk oleh Allah yaitu di bangsa Babel yang dulu telah berbuat dzolim (kerusakan). Nuh dibangkitkan untuk memberi penghiburan dan melakukan pekerjaan yang berat dan besar yaitu membangun kembali kerajaan Allah yang dulu pernah dibangun oleh Adam tapi runtuh karena kaum Adam makan “buah khuldi”. Nuh diutus oleh Allah untuk menebus dosa kaum Adam dan membebaskan kaum Adam dari penderitaan menuju ke jalan keselamatan dengan mengajak kaumnya untuk membangun kembali kerajaan Allah yang dulu pernah ditegakkan oleh Adam. Jadi dosa kaum Adam sudah ditebus dengan kedatangan Nuh dengan misinya membangun kembali kerajaan Allah di muka bumi. Jadi jelaslah bahwa bukanlah Yesus yang menebus dosanya kaum Adam!!

Jadi itulah tugas Nuh adalah mengajak kaumnya untuk menegakkan kerajaan Allah dengan cara berdakwah kepada kaumnya malam (dakwah secara diam-diam) dan siang (dakwah secara terang-terangan), yang sebelum melaksanakan tugasnya Nuh dan kaumnya diperintahkan untuk melakukan perjanjian abadi kepada Allah.

Dan (ingatlah) ketika Kami mengambil perjanjian dari nabi-nabi dan dari kamu (sendiri) dari Nuh, Ibrahim, Musa dan Isa putra Maryam, dan Kami telah mengambil dari mereka perjanjian yang teguh” (Al-Ahzab ayat ke-7).

Nuh telah menyeru kepada bangsanya supaya mereka mendapat ampunan dari Allah atas dosa mengkhianati misi Adam, tapi banyak orang yang mendustakan Nuh, termasuk anaknya yang bernama kan’an, hanya sedikit orang yang beriman. Ketika tidak ada lagi yang beriman di antara kaumnya Allah memerintahkan Nuh untuk membuat bahtera karena sebentar lagi bangsanya akan ditenggelamkan.

Dan buatlah bahtera itu dengan pengawasan dan petunjuk wahyu Kami, dan janganlah kamu bicarakan dengan Aku tentang orang-orang yang zalim itu; sesungguhnya mereka itu akan ditenggelamkan .”(Hud ayat ke-37) .

Nuh melaksanakan perintah Allah kemudian memasukkan setiap ummatnya ke dalam bahtera tersebut. Ini adalah bahasa amsal, yang maksudnya adalah Nuh diperintahkan Allah untuk membentuk komunitas kepemimpinan sebagai sarana untuk menghimpun ummat sebagai pejuang Allah untuk menegakkan kerajaan Allah di muka bumi. Syarat untuk masuk ke dalam komunitas kepemimpinan Nuh adalah harus melakukan perjanjian kepada Allah.

“Tetapi dengan engkau Aku akan mengadakan perjanjian-Ku, dan engkau akan masuk ke dalam bahtera itu: engkau bersama-sama dengan anak-anakmu dan isterimu dan isteri anak-anakmu.” (Kitab Kejadian 6:8) .

Ketika Nuh menawarkan sebuah misi yaitu pengabdian hanya kepada Allah sebagai satu-satunya Tuan, “Janganlah kalian mengabdi kepada Tuan bangsa-bangsa, tetapi mengabdilah kepada Tuan sejati yakni Tuan Allah” Dengan misi itu Nuh dianggap bangsanya sebagai orang gila, orang sesat, orang yang hina, pendusta, dan berbagai macam cobaan lainnya yang menimpanya. Tetapi dengan keyakinan yang kuat, Nuh berhasil menghimpun ummat dalam kepemimpinannya. Sedangkan bangsa yang tidak mau mengikuti misi Nuh maka bangsa itu akan ditenggelamkan. Maksud ditenggelamkan adalah diazab (disiksa) oleh Allah dalam berbagai macam bentuk sampai bangsa tersebut tenggelam / mati dan diganti dengan tegak dan berkuasanya kerajaan Allah. Tatanan dunia lama diganti dengan tatanan dunia baru. Itulah maknanya.

Setelah kaum Nuh tidak ada lagi yang mau masuk ke bahtera maka Nuh dihijrahkan oleh Allah ketika sudah tiba “waktunya” bagi bangsa yang selama ini mendustakannya. “Maka Kami selamatkan Nuh dan penumpang-penumpang bahtera itu dan Kami jadikan peristiwa itu pelajaran bagi semua umat manusia.”(Al-Ankabut ayat ke-15) .

Akhirnya Nuh dan pengikutnya diselamatkan ke bukit Judi. Bukit judi adalah istilah negeri keselamatan. Di situ Nuh dan pasukannya menyusun barisan militer untuk berperang melawan pasukan kafir. Karena perjuangan Nuh dan pasukannya semata-mata murni karena Allah, demi bangkitnya kerajaan Allah maka pada akhirnya peperangan surut dengan kemenangan di pihak Nuh. Tegaklah kerajaan Allah di muka bumi. Berkat sumpah setia mereka bahwa mereka akan taat kepada Allah dan Rosul-Nya, kini merekapun menjadi bangsa yang mulia dan unggul di atas bangsa-bangsa yang lain. Kehidupan menjadi aman, sentosa, damai, adil, dan sejahtera, itulah kondisi sorga di bumi.

Dalam perjalanan berikutnya sebagaimana Sunnatullah pada puncak kejayaan kerajaannya mereka pun sudah mulai lupa diri dengan melakukan kesalahan sebagaimana yang dilakukan oleh bani Adam. ”Maka tatkala Allah menyelamatkan mereka, tiba-tiba mereka membuat kezaliman di muka bumi tanpa (alasan) yang benar. Hai manusia, sesungguhnya (bencana) kezalimanmu akan menimpa dirimu sendiri; (hasil kezalimanmu) itu hanyalah kenikmatan hidup duniawi, kemudian kepada Kami-lah kembalimu, lalu Kami kabarkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (Yunus ayat ke-23).

Karena lupa diri Allah mengubah keadaan mereka dari kondisi “sorga” menjadi “neraka”. Neraka sebagai simbol penderitaan dan kesengsaraan, berarti mereka diperbudak lagi oleh bangsa-bangsa. Dan demikianlah Kami adakan pada tiap-tiap negeri penjahat-penjahat yang terbesar agar mereka melakukan tipu daya dalam negeri itu. Dan mereka tidak memperdayakan melainkan dirinya sendiri, sedang mereka tidak menyadarinya. (Al-An’am ayat ke-123 ).

Mereka telah mengkhianati perjanjian abadi kepada Allah. Akhirnya Allah mencabut kekuasaan mereka untuk selama-lamanya, karena bangsa itu telah berbuat dua kali kerusakan sama seperti sejarah yang akan terjadi pada bangsa Israel. Berbuat kerusakan maksudnya mereka merusak perjanjian abadi dengan Allah yang mengakibatkan jatuhnya / runtuhnya kerajaan Allah.

Tidak ada komentar: